Bekerja di Pemerintahan atau Perusahaan Bukan Jaminan

Kemarin saya mendengar berita di radio bahwa sekitar 8000 orang yang berprofesi sebagai pegawai honorer atau bakti di lingkungan kota setempat mengalami kebimbangan yang tinggi. Karena ada rencana dari walikota untuk merampingkan jumlah pegawai yang sudah dianggap terlalu “gemuk” tersebut. Mereka sibuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan terjelek yang akan diberlakukan kepada mereka. Sampai-sampai mereka memohon kepada walikota untuk menghentikan rencana itu. Mereka mengatakan bahwa jika mereka diberhentikan maka mereka tidak bisa mendapatkan lowongan pekerjaan di tempat lain selain jadi pegawai honorer di lingkungan kota. Anggota dewan juga meminta kepada walikota untuk mencari alternatif lain guna menghindari pengangguran terbuka yang lumayan besar. Alasan walikota sebenarnya masuk akal juga. Walikota mengatakan bahwa anggaran pemerintah kota tidak sanggup untuk menggaji pegawai sejumlah itu karena pendapatan yang minim dan itu pun kurang alias defisit. Sementara infrastruktur kota harus terus dibangun dan dibenahi karena sudah semakin mendesak. Jadi penghentian rencana perampingan sangat tidak mungkin. Mana yang lebih utama ? Kepentingan masyarakat kota atau sejumlah pegawai honorer ? Sungguh dilematis. Di satu sisi pemerintah kota harus membangun infrastruktur guna menggenjot pembangunan yang mana dapat meningkatkan pendapatan asli daerah. Sementara di sisi lain pemerintah juga ingin menurunkan angka kemiskinan dengan mengurangi pengangguran. Serba salah. Disinilah perlunya langkah bijak dan tepat yang harus dilakukan dalam mengatasi permasalahan ini. Sebenarnya jika pemerintah kota mau jeli dalam melihat peluang usaha maka pemerintah pasti mampu mengatasi masalah pengangguran. Apalagi daerah ini berpotensi sebagai tujuan wisata. Tinggal pemerintah memiliki niat dan kemauan untuk melakukannya. Seperti peribahasa, “Ada kemauan ada jalan”. Tapi seperti yang kita ketahui beberapa tahun sebelumnya, profesi sebagai pegawai negeri sangat dielu-elukan orang. Orang berbondong-bondong memasuki dunia pemerintahan hanya demi sesuatu yang semu. Mengapa dikatakan semu ? Begini, jika Anda menanyakan kepada teman Anda, yang sudah masuk ke lingkungan pemerintahan, mengapa Anda masuk menjadi pegawai disitu maka Anda akan mendengar jawabannya adalah keamanan kerja. Ya. Keamanan kerja. Kalimat ini akan sering Anda dengar jika berdiskusi dengannya. Mereka beranggapan bahwa bekerja di dunia pemerintahan itu aman. Dari mulai tidak akan di-phk atau putus hubungan kerja, adanya fasilitas tunjangan pensiun, fasilitas tunjangan kesehatan serta tunjangan lainnya. Inilah motif utama mereka masuk menjadi pegawai di pemerintahan. Belum ada dan bahkan tidak ada niat sedikitpun untuk melayani rakyat. Sehingga wajar ketika terjadi masalah hanya langkah mudah saja yang dipilih karena sudah terbiasa enak. Padahal jika mereka mau melihat kondisi nyata keuangan pemerintah dari tahun ke tahun tidak pernah naik. Selalu menurun. Mengapa hal ini terjadi ? Ini tidak lain disebabkan oleh tidak adanya investasi. Pemerintah membutuhkan investasi untuk menaikkan pendapatan. Investasi hanya bisa dilakukan oleh pengusaha bukan pegawai negeri. Jadi jelas peningkatan jumlah pegawai yang tidak disaingi dengan peningkatan jumlah pengusaha sangatlah besar mempengaruhi pendapatan pemerintah. Kebanyakan orang tidak mengetahui fakta ini. Mereka asyik membanting tulang demi diterimanya di pemerintahan. Alhasil ketika informasi perampingan tiba, muramlah wajah mereka. Stress dan depresi melanda pikiran mereka. Rasa-rasanya kiamat sudah dekat. Begitulah kira-kira suasana pikiran mereka. Padahal itu semua semu tidak nyata. Jika saja mereka mau sejak dahulu menggunakan otak mereka, yang merupakan anugerah terbesar yang pernah dimiliki, pasti mereka santai-santai saja ketika perampingan tiba. Bukannya malah takut tapi malah berkata, “Terimakasih bos atas informasi dan pendidikannya selama ini. Saya akan berhati-hati dalam menghadapi kalangan pemerintahan karena saya tahu dari A sampai Z bagaimana menghadapi kalangan pemerintahan dan mengambil manfaatnya”. Kata-kata inilah yang mungkin akan keluar dari mulut mereka yang mengetahui ilmu bagaimana menghadapi kehidupan nyata dan bebas dari lingkungan siapa pun. Tapi di lapangan sangat jarang orang yang memiliki pikiran seperti ini. Bukan tidak tahu tapi karena saking fokusnya mencari keamanan kerja, hal-hal yang sederhana dan kelihatan bodoh seperti ini luput dari perhatian mereka. Saya tidak tahu secara pasti apa penyebabnya. Apa mungkin orangtua mereka yang tidak memberitahunya atau pendidikan mereka yang tidak mengajari hal itu. Saya benar-benar tidak tahu. Jadi bagi Anda yang tahu tolong beritahu saya. Saya bukan menghina orang yang bekerja di pemerintahan atau perusahaan. Saya jauh dari pemikiran seperti itu. Karena saya memiliki orangtua yang membesarkan saya dari uang hasil bekerja di dunia pemerintahan dan perusahaan. Jadi Anda tahu betapa saya menguasai ilmu tentang hal tersebut. Tapi yang saya sayangkan adalah betapa banyaknya orang yang terlalu menggantungkan diri dengan kedua dunia yang lemah itu. Mereka seakan-akan hidup seribu tahun lagi jika sudah masuk menjadi pegawai di pemerintahan atau karyawan di sebuah perusahaan terkenal. Tidak ada pembelajaran kontinu. Tidak ada upaya untuk mau mencari ilmu yang lebih banyak lagi. Sampai-sampai sebagian dari mereka ada yang berkata, “Ah ngapain belajar terus. Udah ngga ada uangnya bikin cape pikiran dan badan. Mending uangnya saya kumpulin aja untuk anak-anak di masa depan khan lebih baik”. Begitulah kira-kira perkataan mereka. Mereka baru menyadari dan bertanya-tanya ketika perampingan terjadi, kenapa pemerintah atau pimpinan perusahaan tega melakukannya. Terus mereka melakukan gugatan kepada pihak yang berbuat semena-mena terhadap mereka. Alhasil uang habis entah kemana. Dan yang terakhir mereka baru mengakui bahwa bekerja di dunia pemerintahan atau perusahaan ternyata bukan jaminan. Selamat Berbisnis…!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s