Enaknya Jadi Pengusaha

Suatu hari ada percakapan antara dua orang yang berbeda profesi di warung kopi. Kedua orang ini sudah lama berteman. Dan hari itu kebetulan sama-sama memiliki waktu luang sehingga bisa mengadakan pertemuan di sebuah warung kopi dekat sekolah. Sebut saja si A dan si B. Si B bertanya kepada si A dan berkata, “Sebenarnya apa sih enaknya jadi pengusaha ?”. Ternyata si A adalah seorang pengusaha muda yang telah 7 bulan menggeluti dunia usaha. Si B ini bertanya-tanya kepada si A yang menjadi pengusaha padahal usahanya dari dahulu tidak maju maju. A dengan santai tersenyum dan berkata, ”Hanya ada satu kata untuk menjawabnya yaitu BEBAS”. Lalu si B terheran-heran dan berkata, ”Koq simpel banget sih jawabnya, apa ngga ada yang lebih jelas”. A menjawab, “Kata itu sudah jelas dan lengkap jika kamu mau memahami apa maksud dari kata itu dengan melihat apa yang kamu jalani di kehidupan kamu sehari-hari”. Si B makin bingung dengan jawaban A. Singkat cerita topik pembicaraan dialihkan ke nostalgia sewaktu masih sekolah. Kita sering melakukan sebuah kegiatan yang menurut kebanyakan orang itu baik. Kita jarang menanyakan apakah yang kita lakukan sesuai dengan hati nurani kita atau tidak. Penilaian orang lain memang sering membuat keputusan kita tidak mau untuk menjalani kehidupan dengan gaya kita sendiri. Kita merasa risih jika tidak menjadi bagian dari lingkungan. Kita merasa bimbang ketika kita sendirian dalam melangkah. Begitulah ketika memilih menjadi seorang pengusaha. Menjadi pengusaha bisa menjadi menyenangkan manakala kebebasan menjadi tujuan utama. Sedangkan bagi yang menginginkan keamanan jalan hidup sebagai pengusaha terasa selalu menyedihkan. Ini tidak lain disebabkan oleh perbedaan sudut pandang dan pengalaman. Sudut pandang orang yang berbeda-beda membuat titik awal cara berpikir menuju masa depan juga berbeda-beda. Manusia tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan bukan milik makhluk ciptaan yang rentan akan perubahan. Oleh karena itu semua jalan hidup memiliki konsekuensi yang berbeda. Ketika kita memilih menjadi pengusaha maka pertama sekali yang harus diubah adalah cara berpikir bukan kondisi finansial. Zaman sekarang finansial adalah sebuah faktor yang mendominasi pikiran orang. Setiap kejadian sesuatu selalu dihubungkan dengan finansial. Apapun itu. Itulah sebabnya topik finansial adalah topik yang paling banyak dibicarakan di setiap pertemuan. Apakah itu di warung, sekolah, terminal, hotel, restoran atau di kalangan pejabat pemerintahan. Tidak satu pun pertemuan yang luput untuk tidak membahas topik ini. Jika cara berpikir berubah maka akan memiliki dampak langsung terhadap kondisi finansial. Perubahan cara berpikir ini mampu melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga penglihatan menjadi menyebar ke semua arah. Dengan begitu maka setiap peluang yang datang mampu memberikan keuntungan kepada pemiliknya. Terutama finansial tadi. Di dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani ini, sebenarnya ada begitu banyak peluang yang datang dan pergi tanpa kita manfaatkan. Cara berpikir yang tidak menyebar, membuat kita menganggap itu semua adalah biasa saja sebagaimana hari-hari sebelumnya. Seperti matahari yang terbit di belahan timur pada pagi hari lalu terbenam di belahan barat pada waktu maghrib. Bagi orang yang memiliki cara berpikir yang aman maka itu adalah kondisi alam yang biasa saja. Sedangkan bagi orang yang memiliki cara berpikir terbuka dan bebas maka itu adalah sebuah peluang yang harus ditemukan apa rahasia yang terkandung didalamnya. Disinilah letak kenikmatan dan enaknya menjadi seorang pengusaha. Seorang pengusaha memiliki cara berpikir yang terbuka dan bebas. Itu disebabkan keadaanlah yang membuatnya seperti itu. Seorang pengusaha tidak tergantung kepada pemerintah atau perusahaan di dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Waktu dan dana selalu diperoleh dari bagaimana dia memanfaatkan peluang yang datang. Dia tidak pernah mengharapkan finansial dari orang lain. Dia hanya menukarkan peluang yang bagus kepada orang lain dan orang lain akan memberikan finansial yang dimilikinya. Itulah sebabnya kondisi finansial pengusaha tidak pernah bisa diramalkan. Kadang cepat dan terkadang sangat lama sekali. Kadang buruk dan terkadang bagus sekali. Karena pembiayaan kehidupannya ditentukan oleh seberapa keras pemanfaatan peluang tersebut. Akan tetapi bukan berarti ketiadaan finansial itu dapat menghancurkan kehidupannya. Malah setiap kegagalan memberi warna lain terhadap gambaran cara berpikirnya. Sehingga peluang yang akan datang mampu diambilnya dan diubah menjadi finansial yang orang lain heran mengapa bisa menjadi sebuah ide atau gagasan cemerlang yang berpengaruh terhadap finansial. Selamat Berbisnis…!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s