Mensyukuri Yang Dimiliki

Jadi apa sih yang dinamakan kekayaan itu ? Apakah banyak uang ? Atau banyak teman ? Atau banyak makanan ? Atau banyak rumah ? Atau apa ? Semua orang seringkali mendambakan apa yang bisa menyenangkan orang lain. Semua orang suka dengan apa yang ada pada orang lain. Bukan mensyukuri atas apa yang telah dia miliki sendiri.

Contohnya begini. Ketika orang lain senang bekerja di perusahaan minyak maka semua orang berbondong-bondong masuk ke perusahaan itu. Ketika semua orang senang menjadi pegawai negeri maka semua orang berusaha untuk diterima di situ. Tidak ada dan bahkan jarang ada orang yang memilih pekerjaan yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan diri sendiri. Jarang ada orang yang menganggap dirinya sebagai contoh teladan.

Jarang ada orang yang mengatakan, “Contohlah diriku karena aku begini”. Yang ada adalah orang sering mengatakan, “Contohlah dia karena dia sudah sukses”. Keberhasilan dan kekayaan milik orang lain menjadi tolak ukur kebahagiaan. Bukan apa yang telah dia miliki yang bisa menjadi syarat dan standar untuk meraih semua kebahagiaan. Padahal ketika dia diberikan kesempatan untuk bertukar tempat dengan orang yang menurut impiannya, jarang mengalami kebahagiaan sebagaimana tempat atau posisinya dahulu. Dan banyak orang ketika “miskin” sanggup menjadi orang yang ramah dan dermawan. Selalu menolong orang lain dan rajin beribadah. Namun ketika “kaya” maka semua perilaku mulia tadi hilang ditelan bumi. Entah kenapa terjadi hal seperti itu. Apakah karena pendidikan yang diterimanya ? Atau memang karakter manusia yang diciptakan untuk selalu tidak pernah bersyukur ?

Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Saba ayat 13 yang terjemahannya adalah, “Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur”. Dari ayat ini kita bisa mengambil bukti bahwa ternyata dari dahulu manusia itu sangat sedikit sekali yang mau bersyukur. Jadi kita bisa mengambil kesimpulan bahwa lebih banyak orang yang tidak mensyukuri daripada yang mensyukuri. Saya tidak tahu apa lawan dari kata syukur. Tapi yang penting adalah kita mengerti bahwa tidak mensyukuri sudah dianggap mewakilinya.

Oleh karena itu kita tidak perlu risau ketika sekarang terjadi sebuah keadaan dimana orang-orang berlomba mencari dan menimbun kekayaan. Padahal jika kita lihat kekayaannya sudah sangat cukup menghidupi dia sendiri dan keluarganya. Nilai kekayaan bukanlah terletak pada kuantitas. Tapi nilai kekayaan sebenarnya adalah sejauh mana pemahaman pemiliknya tentang hakikat kekayaan tersebut.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s