Bisnis Tak Perlu Canggih

Seperti biasa setiap pagi saya sarapan. Kali ini saya ngidam lontong. Saya membeli lontong di dekat rel kereta api yang terletak beberapa rumah dari rumah saya. Harganya juga tidak terlalu mahal sehingga cukup terjangkau bagi masyarakat di sekitar. Saya biasa sarapan pagi dengan makanan yang sudah puluhan tahun dikonsumsi oleh masyarakat itu. Cara membuatnya juga sangat sederhana. Anak SMA pun bisa membuatnya. Penjualnya adalah masyarakat disitu juga. Sebut saja penjual C. Meskipun ada juga penjual yang lain dengan makanan yang sama, saya memilih penjual C itu karena bumbu dan rasanya sangat berbeda dari yang lain. Pada awalnya saya membeli dan mencoba makanan ini kepada penjual-penjual yang lain. Tapi setelah saya mencicipinya ternyata bumbu dan rasanya tidak membuat saya untuk melakukan pembelian ulang.

Mereka tidak bisa menyamai penjual C dalam hal rasa dan bumbu. Saya juga tidak tahu apa yang menyebabkan penjual yang lain tidak memiliki rasa dan bumbu seperti yang dibuat oleh penjual C ini. Menurut orang-orang yang menjadi langganan di sekitar itu, penjual C sangat mengerti selera masyarakat disitu. Dia sangat memperhatikan sekali rasa dan bumbu atas lontong yang dibuatnya. Yang mana hal itu membuat orang setia menjadi pelanggannya. Bahkan saking setianya uang yang lebih pun tidak  diambil karena tahu besok akan membeli dan membeli lagi. Padahal uang yang lebih tidak sedikit. Rata-rata mencapai Ro 100ribu. Sungguh menyenangkan, bukan?

Itulah bisnis. Ketika bisnis sudah menjadi kebutuhan maka pelanggan akan melakukan hubungan emosi dengan pemilik bisnis. Nah ketika itu terjadi, bukan tidak mungkin semua uang yang ada di dompet mereka akan dikeluarkan untuk itu. Membuka dan merintis bisnis tidak perlu yang canggih-canggih. Tidak perlu harus membuka sebuah usaha yang sarat akan teknologi tinggi yang bisa menggemparkan dunia.Walaupun terkadang bagi orang yang mampu itu tidak apa-apa. Akan tetapi melihat sifat, perilaku dan gaya hidup orang-orang di negara kita ini, saya rasa teknologi tinggi hanya dipakai di ibukota besar saja. Karena di sana banyak orang-orang asing dari negara maju yang membuka bisnisnya disana. Sedangkan untuk di desa sebaiknya usaha itu dijauhi. Karena daya beli masyarakat desa untuk teknologi tinggi sangat jauh dari yang diharapkan. Malahan bisa membuat bangkrut seketika begitu bisnis itu dibuka. Jangankan membeli, mengetahui saja tidak. Cukup buka saja bisnis sederhana seperti penjual lontong yang saya ceritakan diatas. Oh jika Anda tidak ingin lontong ga apa apa juga. Masih banyak koq yang lain. Masih ada selain lontong yang bisa Anda buka. Nasi goreng misalnya. Atau pisang goreng. Atau tempe goreng. Yang penting sesederhana mungkin. Dan bahan bakunya juga mudah dan tidak mahal. Takut saingan ? Ah itu sih biasa.

Jangan takut bersaing. Karena tidak semua orang memiliki ilmu dan kreasi yang cukup untuk mencampur adukkan bumbu. Seperti kasus lontong diatas. Dan satu lagi yang harus diperhatikan nama bisnis. Kalau bisa nama bisnisnya jangan standar. Agar menarik coba cari nama yang mengundang perhatian. Blackberry goreng misalnya. Tapi jangan juga terlalu keren sehingga membuat orang-orang bertanya lagi makanan apa itu.

Bingung tempat usaha ? Ga usah khawatir. Ga usah cemas. Jangan susah. Ga usah mikir yang muluk-muluk. Kenapa ga buka aja di rumah. Toh ga perlu sewa. Untuk mengundang pelanggan, gratiskan aja bagi 10 orang yang membeli pertama. Manjur ga ? Dengan memperhatikan semua hal diatas bukan tidak mungkin bisnis Anda bisa break even kurang dari 1 bulan. Tertarik ? {}


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s