Uang Tidak Nyata

Kemarin saya membaca berita di salah satu media daerah tentang tertangkapnya dua anak muda yang terlibat pembuatan dan peredaran uang palsu (upal). Dalam berita ini ada yang menarik. Yang menarik adalah mereka berdua ditangkap tanpa perlawanan yang berarti. Biasanya seorang penjahat kalau ditangkap rata-rata mereka berusaha melawan atau berontak. Tapi mereka tidak. Mereka menyerah begitu saja kepada polisi. Bahkan mereka menceritakan semua yang telah mereka lakukan kepada polisi. Sungguh sebuah sikap yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Seakan-akan perbuatan mereka itu sah-sah saja.

Namun begitu, terlepas dari motif apapun yang ada di dalam pikiran mereka, dari berita ini kita patut prihatin bahwa semakin banyaknya orang yang tidak mengerti dan memahami bahwa uang itu tidak nyata. Sehingga akibat pemahaman ini sebagian orang sibuk memikirkan bagaimana mencuri, merampok, menggelapkan, dan yang terakhir menggandakan uang. Padahal kalau mereka memiliki uang sebanyak yang ada di dunia ini pun dari hasil curian, mereka tidak mungkin bisa hidup tenang. Mereka pasti dikejar oleh aparat penegak hukum. Kapan pun itu.

Mungkin ada sebagian orang yang menganggap kalau aparat penegak hukum bisa disuap. Jadi tidak apa-apa mencuri atau merampok uang kalau diatas Rp 1 Milyar. Khan bisa meredam penegakan hukum. Iya benar. Memang bisa. Tapi muncul pertanyaan begini. Apakah uang yang kita curi itu cukup untuk melakukan tindakan itu terhadap semua penegak hukum. Bukankah aparat penegak hukum bukan satu orang. Dan satu lagi apakah aparat penegak hukum yang disuap, tidak berpikir dua kali untuk menerima uang hasil tindak kriminal. Sebab mereka juga tidak mau hanya dengan uang tidak seberapa, martabat dan reputasi mereka hancur begitu saja. Pasti mereka akan meminta dengan jumlah yang lebih besar dari resiko yang diterima. Dan itu pasti akan menimbulkan konflik yang berakibat fatal bagi pemberi suap dan penerima suap.

Itulah sebabnya kita baca di koran-koran bahwa kasus tertangkapnya pelaku tindak kriminal bukan dari siapa-siapa. Tapi dari salah satu anggota kelompok pelaku tindak kriminal yang tidak kebagian jatah yang cukup.

Sebenarnya kalau kita mau berpikir sejenak, untuk memiliki banyak uang, tidak perlu harus melakukan tindak kriminal seperti mencuri atau merampok. Ada cara lain yang sangat elegan dan terhormat yang dapat kita pilih daripada harus berhadapan dengan pihak aparat penegak hukum. Hal itu dapat kita pelajari dengan hanya mengetahui apa yang disukai oleh uang itu sendiri. Apa itu ? Baca terus artikel ini. Di dalam artikel ini Anda akan mengetahui apa yang paling disukai oleh uang.

Seperti yang telah kita ketahui dan pahami bersama bahwa uang yang dicetak oleh pemerintah itu berfungsi untuk memudahkan terjadinya pertukaran barang dan jasa yang beredar di masyarakat. Tidak mungkin kegiatan tukar-menukar barang dan jasa (barter) akan terjadi terus selamanya. Sebab akan ada sebagian orang yang dirugikan ketika sistem barter ini terus diberlakukan. Tapi bukan berarti sistem barter itu jelek. Ada sebuah saat dimana sistem barter lebih disukai daripada menggunakan uang. Nah ketika saat itu tiba maka uang tidak lagi menjadi alat pertukaran. Jadi intinya adalah pertukaran barang dan jasa. Bukan uang yang mutlak diperlukan.

Mari saya coba dengan sebuah contoh. Beberapa waktu lalu saya menghubungi salah seorang pemilik rumah toko (ruko). Dia berkeinginan menjual hartanya tersebut. Setelah saya menelepon dan menanyakan harganya, dia mengatakan bahwa dia pernah mendapatkan tawaran menerima sebuah mobil merk terkenal sebagai ganti dari uang tunai yang diinginkannya dari penjualan ruko itu. Kemudian saya menanyakan kepadanya mengapa dia tidak menerimanya. Lalu dia menjawab bahwa dia lebih suka mobil merk lain dari merk mobil yang ditawarkan. Mungkin kalau mobil itu yang ditawarkan maka dia mau menukarkan ruko yang dimilikinya. Nah disini kita bisa melihat bahwa terkadang sistem barter lebih disukai daripada uang itu sendiri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s