Pelanggan Pertama

Sebagai pengusaha, melayani pelanggan pertama memang membuat kita tidak tenang. Kita takut kalau-kalau dia tidak jadi melakukan transaksi. Kita takut kalau-kalau dia tidak mau lagi berhubungan dengan kita. Padahal kalau kita sadar ini adalah hal yang biasa dalam bisnis. Ini juga awal dari sebuah transaksi besar. Tidak ada transaksi besar kalau tidak diawali oleh transaksi-transaksi kecil.

Namun begitu seringkali pengusaha melupakan pengetahuan ini. Dia terburu-buru dan terbawa emosi di dalam melayani pelanggan potensial ini. Sehingga dia tidak menghitung biaya di dalam melayaninya. Alhasil begitu transaksi tidak terjadi, hutang menjadi gunung.

Memang benar mendapatkan seorang pelanggan di zaman yang serba mudah seperti sekarang ini sangatlah susah. Sebab seseorang yang mau membeli produk dan jasa kita akan terlebih dahulu melakukan penelitian sebelum mengeluarkan uangnya. Dia akan bertanya kepada seseorang yang lebih tahu tentang produk atau jasa ingin digunakannya. Sehingga jika dia datang dan menelepon perusahaan kita berarti dia sudah memiliki referensi yang lengkap bahwa produk atau jasa perusahaan kita baik dan dapat dipercaya.

Akan tetapi bukan berarti begitu seorang pelanggan potensial yang menelepon kita, kita akan menghabiskan seluruh kas atau uang yang ada untuk meng-goal-kan transaksi tersebut. Milikilah sikap reluctant service atau pelayan yang tidak membutuhkan siapa pun. Pelayan yang jika tidak ada transaksi pun bisa terus bekerja tanpa mengkhawatirkan dipecat. Pelayan yang jika tidak ada transaksi pun bisa hidup seperti layaknya orang biasa lainnya. Bagaimana caranya ? Caranya dengan berunding dengan tim ahli Anda sendiri. Bila tidak ada, bisa dengan kolega Anda yang memang mengerti akan hal ini. Atau bisa juga membeli buku-buku yang membahas masalah ini.

Oleh karena itu kita sebagai pengusaha harus memiliki naluri yang tepat apakah seorang calon pelanggan itu benar-benar mau melakukan transaksi atau tidak. Memiliki naluri seperti itu bukanlah sesuatu yang magis. Atau harus mendekatkan diri kepada makhluk-makhluk tertentu. Atau harus datang ke orang “pintar” di sebuah kampung yang jauh di pedalaman. Bukan. Bukan ini maksudnya. Tapi maksudnya adalah dengan membiasakan diri menghadapi calon pelanggan dari manapun, dimana pun dan kapan pun. Meskipun dia hanya bertanya-tanya saja. Meskipun dia hanya melihat-lihat saja. Itulah sebabnya tidak ada yang namanya transaksi besar jika tidak diawali dengan transaksi kecil. Jadi santai saja man….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s