Obat Tidur

Tadi pagi saya disuruh oleh ayah saya untuk membeli obat tidur di apotik. Ayah saya mengeluh bahwa beliau tidak bisa tidur semalaman. Itulah sebabnya beliau membutuhkan obat tidur. Saya sudah berkali-kali menyarankan agar beliau tidak mengandalkan obat tidur untuk tidur. Tapi beliau tidak mau mendengar. Alasannya sederhana. Sebab saya belum merasakan keadaan yang sama.

Dan kebetulan apotik yang akan didatangi itu adalah milik saudara saya. Setelah ayah saya menghubunginya maka saya pun meluncur ke sana. Apotiknya tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. Tapi cukup membuat pemiliknya sejahtera. Ini dibuktikan dengan dimilikinya mobil merk terkenal yang harganya mencapai Rp 100 juta-an oleh pemiliknya.

Kira-kira 10 menit saya tiba di apotik tersebut. Kemudian saya langsung menanyakan kepada petugas disitu. Ternyata dia tidak mengetahui bahwa ayah saya telah memberitahu pimpinannya bahwa saya akan datang dan membeli obat tidur. Namun dia memberitahu saya bahwa pemilik apotik sedang mengambil mobil sebentar. Anehnya dia tidak meminta saya untuk menunggunya. Tapi saya langsung mengambil kesimpulan dengan menunggu sebentar. Sebab saya tidak mau menyia-nyiakan uang dan waktu bolak-balik hanya untuk membeli obat tidur. Akhirnya tak lama pemiliknya tiba.

Bukannya menyapa dan memberi salam, pemiliknya langsung saja menanyakan petugas apakah ada obat tidur yang sesuai dengan yang ayah saya memintanya. Seakan-akan kami tidak ada hubungan saudara. Saya semakin negatif saja terhadap pemiliknya ini. Padahal kami bersaudara. Tapi tidak apa-apa. Lagipula ini masih bulan Ramadhan atau masih berlangsungnya ibadah puasa wajib. Jadi saya menahan diri untuk tidak terbawa pikiran negatif dan emosi.

Setelah menemukan obat tersebut, petugas apotik memberikan begitu saja obat tadi kepada saya. Sementara menurut petunjuk ayah saya, beliau sudah sepakat dengan pemiliknya untuk membayarnya. Ayah saya tidak mau gratis. Lalu saya menjelaskan kepada pemiliknya bahwa ayah saya tidak mau gratis. Namun pemiliknya tetap bersikeras bahwa obat itu gratis. Saya menjelaskan sekali lagi bahwa ini tidak boleh terjadi. Obat itu harus dibayar dan tidak boleh gratis. Ternyata pemiliknya tetap juga bersikeras untuk memberikan begitu saja obat itu kepada saya. Dan dia mengajak saya untuk menipu ayah saya bahwa saya telah membayarnya. Langsung saya tidak mau sebab saya sedang berpuasa. Saya tidak boleh berbohong. Setelah saya mengatakan seperti itu dia membawakan alasan bahwa obat itu bukan resep dokter jadi susah untuk dilakukan pembayaran karena merusak pembukuan.

Saya semakin bingung atas semua ini. Singkat cerita saya pun mengiyakan juga bahwa obat itu gratis karena alasan tadi. Setelah berbincang-bincang sejenak dengannya saya pun pamit dari apotik tersebut. Namun dari peristiwa tadi membuat saya mengambil pelajaran.

Pelajaran Pertama, jangan mudah berbohong. Di dalam dunia ini peluang untuk berbohong sangatlah besar. Hampir di setiap tempat kita diajak untuk berbohong. Sebab apa ? Sebab dengan berbohong orang merasa akan memperoleh keuntungan. Padahal itu hanyalah keuntungan semu alias tidak nyata.

Pelajaran Kedua, tetap profesional. Meskipun sesama saudara, kita harus tetap profesional tatkala melakukan praktik bisnis. Jangan pernah ada perasaan di dalam hubungan bisnis. Kalau pun ada itu hanyalah sebagai bumbu penyedap bukan makanan itu sendiri.

Pelajaran Ketiga, jangan jadi pengemis. Meskipun kita dalam keadaan susah, jangan pernah meminta-minta atau mengemis kepada orang lain. Semua manusia dilahirkan bebas dan dibutuhkan oleh manusia lain. Jadi jangan pernah menjatuhkan martabat dan harga diri kepada orang lain atau kepada saudara sekalipun hanya karena tidak ada uang. Percayalah uang itu tidak nyata. Yang nyata hanyalah kesepakatan. Dan usahakan untuk selalu mengatakan kebenaran meskipun itu pahit dimana pun, kapan pun dan kepada siapapun. Karena itu bisa meningkatkan nilai diri kita dimata orang lain.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s