Fitrah

Tadi sekitar jam 9 malam, saya pergi ke meunasah di desa saya untuk membayar zakat fitrah sebagaimana umat muslim lainnya. Sebagai muslim, saya dan muslim lainnya diwajibkan membayar zakat fitrah sebagai pembersihan diri untuk omongan kotor dan perbuatan yang tidak zakatfitrahberguna pada bulan Ramadhan selama menjalani puasa.

Menurut para ahli Islam, zakat fitrah adalah memberikan makanan pokok sehari-hari sejumlah tertentu dari setiap orang, anak laki-laki dan anak perempuan baik dewasa maupun yang masih kecil. Karena kami memakan beras sebagai makanan pokok sehari-hari maka kami pun membayar zakat fitrah ini dengan beras.

Ada banyak pendapat yang berkembang di kalangan ahli Islam tentang ukuran dan tatacara pembayaran zakat fitrah ini. Menurut sebagian ahli Islam, ukurannya 1 sha’ yang mengacu dari hadits Nabi yang berbunyi, “Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menfardhukan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas budak sahaya, orang merdeka, laki-laki, wanita, kecil dan besar dari kaum muslimin. Dan Nabi memerintahkan untuk ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang menuju shalat (Id).” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabuz Zakat Bab Fardhu Shadaqatul Fithri 3/367, no. 1503 dan ini lafadznya. Diriwayatkan juga oleh Muslim)

Satu sha’ sama dengan 4 mud. Sedangkan 1 mud sama dengan 1 cakupan dua telapak tangan yang berukuran sedang. Bila diukur kira-kira sekitar 2,7 liter.

Menurut Dewan Fatwa Saudi Arabia atau Al-Lajnah Ad-Da`imah yang diketuai Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, wakilnya Asy-Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi dan anggotanya Abdullah bin Ghudayyan memperkirakan 3 kg. (Fatawa Al-Lajnah, 9/371). Adapun Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berpendapat sekitar 2,040 kg. (Fatawa Arkanil Islam, hal. 429)

Saya mengambil pendapat yang 3 kg karena biar tidak susah-susah menghitung dan membawanya. Maklum kami harus membelinya dahulu kepada pedagang yang dekat dengan meunasah untuk memudahkan di dalam pengantaran. Ini kami lakukan karena kami tidak memiliki kendaraan.

Adat istiadat di desa saya dalam tatacara pemberian zakat fitrah adalah memberikan zakat fitrah ini kepada teungku yang menjadi imam shalat berjama’ah. Dialah yang menerima akad (perjanjian) dari pemberi fitrah. Menurut adat setempat, akad ini harus diucapkan. Dan selama mengucapkan pemberi fitrah harus bersalaman dengan teungku. Ucapannya, “Ini fitrah saya dan keluarga saya, untuk …orang, tunai, karena Allah Tabaaraka wa Ta’ala”. Kemudian fitrah dikumpulkan di sebuah tempat yang tidak jauh dari pelaksanaan akad tadi.

Meskipun dianjurkan sebelum keluarnya orang-orang untuk menunaikan shalat ‘Id, tapi karena ada teungku makanya kami mempercepat pemberian zakat fitrah ini secepatnya. Teungku tadi adalah penyelenggara atau yang lebih dikenal dengan amil zakat atau panitia zakat. Untuk itulah kami menyerahkan kepada teungku tersebut agar bisa disalurkan kepada yang berhak. Dan kami takut jika kami lambat dalam menyerahkan kepada para penyelenggara tadi nanti mereka akan menolak zakat fitrah kami.

Di desa kami, kesadaran membayar zakat fitrah lumayan tinggi. Ini dibuktikan ketika saya ikut membayar, saya melihat banyak sekali orang yang memberi zakat fitrah ini. Seakan-akan tidak ada orang miskin. Semuanya berbondong-bondong memberikan zakat yang diwajibkan kepada setiap muslim tersebut. Ada yang membawa 20 kg, 15 kg, 10 kg, dan lain-lain. Sungguh indah rasanya jika semua pemimpin di dunia ini bisa mencontoh seperti masyarakat di desa saya. Sebab mereka mau memberikan sebagian makanan pokok mereka tanpa takut miskin.


One thought on “Fitrah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s