Membeli Efektif

Seperti biasa jika saya ingin membeli sesuatu maka saya pergi ke pasar terdekat. Saya akan menuju tempat yang penuh keramaian orang itu. Sebenarnya yang saya beli cuma satu jenis tapi karena saya tidak mau rugi waktu dan biaya maka saya pergi ke tempat yang bisa menjangkau dan memenuhi semua kebutuhan saya. Dan tempat itu adalah pasar.

Bagi sebagian orang membeli di pasar adalah hal biasa. Tidak perlu membuat rencana terlalu formal. Cukup sediakan anggaran, selesai jalan. Sederhana, bukan ? Tapi bagi saya proses membeli tidak sesederhana itu. Saya harus benar-benar merencanakannya. Apakah yang saya beli itu sesuai dengan kebutuhan atau hanya keinginan. Saya harus ketat sekali dalam membeli. Karena saya tidak mau uang hasil kerja keras saya habis kepada sesuatu yang tidak memenuhi kebutuhan. Dan ini juga yang selalu diajarkan oleh ayah saya. Atur keinginan dan fokus pada kebutuhan atau keperluan.

Sebagian orang tidak tahu bahwa tidak semua yang dijajakan di pasar itu sesuai dan bisa memenuhi semua kebutuhan. Dan bahkan kita sering membeli bukan sesuatu yang memang merupakan kebutuhan awal kita sebelum menuju pasar. Di pasar itu banyak sekali tersedia produk atau barang dagangan yang diluar kebutuhan Anda. Jadi Anda harus hati-hati ketika berada di pasar. Karena boleh jadi Anda akan tertarik pada sesuatu yang bukan kebutuhan Anda. Sementara uang Anda mungkin sangat terbatas hanya cukup untuk apa yang Anda butuhkan saja.

Mungkin Anda bertanya, Mengapa ? Ya karena memang kebutuhan tidak sama dengan keinginan. Kebutuhan itu hal yang konkrit. Sedangkan keinginan itu hal yang abstrak. Jika Anda ingin memenuhi semua kebutuhan Anda maka Anda tidak perlu membawa banyak uang. Tapi jika Anda ingin memenuhi semua keinginan Anda maka Anda tidak perlu memiliki dompet.

Itulah sebabnya di pasar itu banyak sekali pembeli dari kalangan wanita. Sebab mereka ini banyak sekali keinginannya. Jadi untuk Anda yang sedang mencari pendamping hidup, berhati-hatilah memilihnya. Karena awal dari kasus korupsi itu bermula dari seorang istri yang tidak bisa mengatur keinginannya. Jelas ini akan menghancurkan karir Anda.

Ketika saya mendatangi sebuah toko dan ada penjual yang menawarkan produk dagangannya, selalu saja saya tawar serendah mungkin. Saya selalu memulai dengan menawar 50% dari harga yang ditawarkan. Tapi ini tentu sesudah pejual memberitahu harganya dulu. Saya tidak pernah keduluan menyebut harga. Saya tetap berusaha menunggu sampai penjual menyebut harga dulu. Alhasil saya menemukan bahwa harga yang ditawarkan selalu hanyalah harga coba-coba dari penjual saja. Kalau diterima syukur dan kalo tidak ya tidak apa-apa. Biasanya harga aslinya cuma 20% dari harga tersebut. Yang 80% lagi hanyalah coba-coba tadi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s