PNS Mangkir Kerja

Pagi tadi saya mendengar berita di radio yang memberitakan bahwa ketua dewan perwakilan rakyat setempat melakukan inspeksi mendadak terhadap sejumlah dinas terkait. Dan ternyata dalam kegiatan itu mereka menemukan ada beberapa pegawai negeri sipil (PNS) yang tidak masuk kerja alias mangkir.

Gubernur juga melakukan kegiatan yang sama. Dia mendapati paska lebaran yang sudah 5 (lima) hari ini ada sejumlah pegawai yang belum juga masuk kerja. PadaPNShal cuti bersama yang diberlakukan pemerintah sudah lebih dari cukup. Pemerintah memberlakukan cuti bersama sebanyak 5 (lima) hari. Jumlah tersebut dianggap sudah sangat mencukupi kebutuhan bersilaturahmi antara sesama anggota keluarga.

Namun begitu hari pertama kerja para pelayan masyarakat itu tidak juga memenuhi kewajibannya. Mereka tetap saja tidak masuk kerja seperti tahun-tahun sebelumnya. Ketika mereka yang mangkir itu ditanya, alasan mereka sederhana. Mereka masih merasa bahwa ini masih suasana lebaran. Jadi mereka menganggap suasana lebaran sebagai alasan tidak masuk kerja. Toh kalau masuk kerja pun mereka pasti tidak ada pekerjaan.

Beberapa pendapat dan opini berkembang di masyarakat di dalam menyikapi berita ini. Ada yang menyarankan sebaiknya untuk PNS yang mangkir, pemerintah harus memberlakukan sanksi pemotongan gaji. Ada juga yang mengusulkan sanksi skor. Ada juga yang mengusulkan dipindah ke tempat lain. Ada juga yang mengusulkan untuk dipecat. Dan banyak pendapat dan saran lain yang keluar dari mulut masyarakat terhadap berita ini. Semuanya mengisyarakat kegeraman masyarakat terhadap abdi pemerintah tersebut.

Bila kita mencermati berita ini ada beberapa pertanyaan yang muncul.

Mengapa setiap paska lebaran selalu ada saja pegawai negeri yang tidak masuk kerja ? Mengapa pegawai negeri itu sampai berani tidak masuk kerja padahal hari kerja sudah mulai ? Apakah pemerintah tidak memiliki aturan yang tegas yang bisa membuat efek jera pada abdi pemerintah itu ? Apakah pemerintah sedemikian mudahnya diacuhkan sehingga pegawai negeri sipil tersebut tidak menganggap pentingnya disiplin ? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin muncul.

Terlepas dari berbagai alasan yang akan dikemukakan di dalam menjawab pertanyaan diatas, saya rasa ada satu hal yang mungkin bisa dianggap sebagai faktor utama di dalam munculnya sikap acuh tak acuh bagi pegawai negeri sipil diatas. Apakah itu ? Saya yakin Anda pasti bisa menjawabnya sendiri.

Menurut saya faktor itulah yang menjadi penyebab dari semua fenomena diatas. Tidak mungkin orang atau pegawai atau karyawan mau disiplin jika faktor itu tidak dijadikan acuan di dalam memberlakukan aturan. Sehebat atau serinci apapun aturan yang diberlakukan jika tidak melibatkan faktor itu, saya rasa aturan apapun akan sia-sia. Aturan itu hanya akan menjadi pajangan etalase furnitur saja. Aturan itu hanya akan menyemakkan perpustakaan pemerintah atau perusahaan saja.

Oleh karena saya menyarankan kepada pimpinan perusahaan atau pemerintah di dalam membuat aturan, seyogyanya menggunakan faktor-faktor yang sangat berkaitan erat dengan kedisiplinan seorang karyawan atau pegawai negeri di dalam menjalani aktivitasnya. Dengan faktor tadi semua karyawan atau pegawai negeri tidak akan berani melanggar aturan yang telah dibuat. Karena barangsiapa yang melanggar aturan yang memakai faktor itu maka dia akan menemui kesulitan yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu dekat. Sehingga menimbulkan efek jera bagi orang yang melanggarnya. Jika itu terjadi maka kedisiplinan pun akan tegak seiring dengan kualitas kerja dan pelayanan dari pihak yang memiliki kewajiban.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s