Ibukota Bukan Seorang Ibu

ibukota Biasanya ibukota adalah kota yang digunakan oleh sebuah negara sebagai pusat pemerintahan. Tapi meskipun dipakai sebagai pusat pemerintahan bukan berarti juga harus disana dibangun pusat industri.

Banyak negara maju yang tidak terlalu memaksakan ibukota sebagai kota tujuan semua warganegaranya. Ini berbeda dengan negara berkembang yang membangun ibukotanya sebagai tempat sebagai pusat segala-galanya.

Seperti yang terjadi setiap tahun di Indonesia. Setiap paska lebaran selalu saja ada orang yang mengadu nasib di ibukotanya yakni Jakarta. Sementara keahlian dan ketrampilannya tidak sesuai standar yang harus ditempuh guna mengimbangi pasar tenaga kerja.

Bila ada pengamat atau peneliti yang mengatakan bahwa tidak harus ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, sebenarnya ini hanyalah sebagai saran utopia belaka. Sebab walaupun pemerintah telah mengirimkan dana ke daerah tetap saja Jakarta sang Ibukota masih juga menjadi tujuan pengaduan nasib.

Ini tidak lain karena Jakarta sangat berbeda dengan daerah. Daerah belum memenuhi standar tujuan investasi. Masih banyak infrastruktur yang perlu dan harus dibangun yang mana hal itu membutuhkan waktu. Padahal pengangguran semakin bertambah seiring dengan lulusnya para pencari kerja setiap tahunnya. Sehingga lapangan pekerjaan dengan pencari kerja tidak pernah seimbang. Disitulah timbul kelebihan muatan pencari kerja di daerah-daerah.

Dan itu juga yang menyebabkan mereka mencari kerja di Jakarta. Karena mereka tergoda dengan informasi teman-teman mereka yang sudah berhasil di sana. Jakarta menjadi tempat tujuan mereka karena memang Jakarta sangat lengkap. Dari infrastruktur, listrik, air, pendidikan, penghasilan, daya beli sampai komunitasnya. Daerah lain tidak akan pernah bisa mengimbangi apa yang ada pada ibukota Indonesia tersebut. Daerah harus memerlukan puluhan tahun untuk bisa seperti Jakarta.

Jadi percuma kalangan pemerintah, akademisi, peneliti, pengamat atau siapapun yang menghimbau agar tidak menjadikan Jakarta sebagai kota tujuan untuk mengadu nasib. Sebab ini sama saja dengan mengatakan kepada seorang anak untuk tidak menyusul ibunya yang pergi meninggalkannya. Oleh karena itu kita harus tahu bahwa ibukota tidak selamanya seperti seorang ibu yang menjadi tumpuan kasih sayang semua anak-anaknya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s