Orang Kaya Tidak Punya Rumah

Tadi siang kami dikejutkan dengan kedatangan seorang anggota dari keluarga besar kami. Memang sebelumnya kami ingin tahu bagaimana kabar dari keluarga itu. Namun karena keterbatasan fisik dan biaya maka kami tidak bisa melakukan silaturahmi seperti kebanyakan orang lainnya.

Ternyata mereka mengunjungi kami. Alangkah bahagianya kami menerima mereka. Kami pun menyuguhi minuman dan makanan layaknya tamu-tamu sebelumnya. Setelah kami mempersilahkan duduk maka kami memulai pembicaraan. Banyak sekali tema yang kami bicarakan. Dari mulai masalah pribadi sampai dengan masalah perusahaan tempat mereka bekerja.

Namun entah kenapa tiba-tiba mereka menceritakan tentang rumah yang telah mereka bangun. Seakan-akan mereka mengatakan “Ayo pujilah kami karena kami memiliki rumah yang paling bagus dan paling mahal dari semua rumah yang ada di kota tempat kami tinggal.”

Menurut cerita mereka rumah itu dibangun dengan biaya yang tidak sedikit. Biaya pembangunannya hampir mencapai Rp 500 juta. Wow….besar sekali, bukan? Mungkin bagi Anda yang tinggal di kota besar, nilai itu masih kecil. Tapi untuk kami di kota kecil, jumlah sebesar itu sungguh membuat orang-orang mengeleng-gelengkan kepala mendengarnya.

Dengan mengutip istilah Robert T. Kiyosaki, begitulah orang-orang yang tidak mengetahui aset dan liabilitas. Mereka menganggap rumah sebagai aset sehingga mereka menghabiskan uang yang mereka miliki untuk membangun rumah paling besar, paling tinggi dan paling mewah. Kalau perlu habiskan segala tabungan yang ada. Padahal tabungan itu adalah tabungan pensiun mereka. Dan mereka tidak tahu satu hal bahwa betapa susahnya menjaga nilai rumah agar tetap sama seperti nilai sewaktu pertama sekali dibangun pada masa-masa mendatang.

Mereka tidak tahu setelah 10 tahun, atap dan kamar mandi milik mereka pasti akan mengalami kerusakan. Yang mana jika kedua bagian rumah itu tidak diperbaiki maka akan mempengaruhi nilai rumah mereka. Dan yang paling sakit lagi mereka akan bingung dimana mereka bisa mendapatkan dana untuk biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaikinya. Karena biayanya begitu besar sehingga tabungan mereka pun tidak bisa diandalkan.

Ini berbeda dengan orang kaya. Sebenarnya orang kaya itu tidak punya rumah. Mereka hanya menyewa saja. Dan dana untuk menyewa rumah itu berasal dari arus kas, dari aset yang telah mereka bangun. Apakah itu dari bisnis, royalti, sewa properti, dividen, surat utang, obligasi dan semua yang bisa menghasilkan uang secara tetap. Itulah sebabnya orang kaya itu tidak pernah jauh dari yang namanya usaha dan perusahaan karena dengan itulah mereka bisa mendapatkan kekayaan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s