Waspada Itu Perlu

Untuk mengirim uang ke sebuah rekening tujuan, mau tidak mau saya harus pergi ke kota. Ini tidak lain karena di sekitar rumah orangtua saya tidak ada yang namanya ATM. Sehingga perlu ada gerak sedikit ke luar lingkungan rumah. Namun begitu langkah ini tidak membuat saya hilang akal untuk rajin mendaftarkan apa-apa yang perlu dibeli. Memang benar jika lupa kita tinggal menggunakan handphone untuk memberitahu hal itu. Tapi saya tidak ingin menyia-nyiakan pulsa jika memang bisa dihemat.

Saya menanyakan kepada orangtua apakah ada yang ingin dititipkan sehingga bisa menghemat ongkos perjalanan. Setelah mereka memberi tahu bahwa hanya dua item saja yang ingin dibeli maka saya pun mengingatnya saja. Biasanya setiap titipan dari orangtua saya catat di kertas kecil. Tapi entah kenapa tadi saya tidak mencatatnya.

Lalu saya pun berangkat. Tiba-tiba di perjalanan saya bertemu dengan seorang pemuda. Saya tidak mengenal pemuda tersebut. Tapi dia tetap memberhentikan sepeda motornya. Karena dia melihat saya jalan kaki maka dia pun mengajak untuk naik ke sepeda motor yang dikemudikannya itu. Dalam perjalanan kami bercakap-cakap. Ternyata dia adalah anak dari tetangga saya yang sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Dia sudah lama di daerah lain yang daerah itu membuat dia bertemu dengan istrinya yang sekarang. Kebetulan daerah asal istrinya itu satu daerah dengan kampus saya dahulu.

Dia juga mengajak saya untuk membantunya di dalam membangun usaha penjualan buah-buahan. Kebetulan buah-buahan itu diambil dari kebunnya sendiri. Sungguh sebuah peluang bisnis yang sulit untuk ditolak. Saya menyatakan minat yang tinggi untuk hal tersebut. Meskipun saya tetap harus jeli di dalam menganalisa untung ruginya.

Karena saya ingin ke kota yang jaraknya lebih jauh dari tempat tujuan perjalanannya maka dia pun menurunkan saya di tempat yang membuat saya mudah mendapatkan angkutan kota. Kami pun berpisah. Setelah itu saya pergi ke toko handphone untuk mencari baterai untuk handphone saya yang baterainya sudah rusak.

Ternyata di toko itu barang yang ingin saya cari tidak ada. Alasan mereka bahwa barang itu sudah tidak ada stok. Maklum handphone milik saya itu keluaran 4 tahun yang lalu. Sudah tentu membuat toko jarang menjadikannya sebagai stok. Mendengar barang itu tidak ada saya pun mengucapkan terimakasih kepada petugas dan melanjutkan perjalanan lagi.

Lalu saya menyetop angkot yang menuju kota. Setibanya di kota saya mampir dahulu ke bank untuk menyetor uang guna membeli obat. Di bank milik pemerintah itu saya melihat cuma 4 orang saja. Mungkin karena jam kerja jadi tidak banyak orang bisa pergi ke bank. Disitu juga ada petugas yang menjaga seperti teller, customer service dan satpam. Dan ada satu orang polisi bersenjata. Saya rasa ini mungkin akibat dari peristiwa perampokan bank yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Hal itulah yang menyebabkan setiap bank dijaga oleh polisi yang dipersenjatai. Walaupun begitu dampak dari penjagaan seperti itu membuat pelanggan bank seperti saya lumayan menjadi takut juga. Tidak mudah untuk tetap tenang melihat orang memegang senjata tipe M16 buatan AS itu.

Setelah kegiatan penyetoran uang selesai saya pun buru-buru pergi keluar menjauhi polisi tadi. Saya takut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang bisa menyebabkan saya terkena eksesnya. Bukankah tidak sedikit peristiwa perampokan bank yang diakhiri dengan korban sipil yang berdosa. Padahal mereka tidak ada hubungannya. Oleh karena itulah saya buru-buru menyelesaikan kegiatan saya dan menjauhinya.

Setiba saya di pertokoan kota saya pun menyempatkan diri untuk mampir ke toko handphone. Saya ingin mengecek apakah ada baterai yang saya inginkan. Setelah saya menanyakan ternyata baterai itu ada. Harganya murah cuma kurang dari Rp 100ribu. Setelah dites saya pun membayarnya dan pergi. Tak lupa saya mengucapkan terimakasih.

Kemudian saya pergi ke warnet untuk mengecek surat masuk dan status jejaring sosial saya. Kira-kira kalau tidak salah ada 1,5 jam saya di warnet. Dan itu memakan biaya sekitar tidak lebih dari Rp 5ribu saja. Murah, bukan ? Jelas murah soalnya yang memiliki warnet itu sudah menjadi teman saya. Bagi pembaca yang ingin mengetahui apa nama dan alamat warnet itu bisa menghubungi saya.

Setelah itu saya pergi ke tempat dilaluinya angkutan kota untuk kembali ke rumah. Maklum jam di handphone sudah menunjukkan pukul 12 siang. Tiba saatnya untuk pulang. Saya pun kembali menyetop-nyetop angkot. Tidak lama saya pun menemukan angkot yang menghentikan melajunya. Tapi angkot itu saya lihat tidak terlalu banyak orang. Cuma beberapa orang saja. Karena saya sudah terlalu lelah berdiri untuk menunggu, saya pun tidak menghiraukannya.

Ternyata belum sampai 1/2 perjalanan ke rumah, angkot yang saya naiki mengalami masalah. Mesinnya mulai memperdengarkan suara-suara tidak karuan. Penumpang disitu cuma 3 orang. Kami saling beradu pandangan. Satu orang turun. Tinggal 2 orang yang termasuk saya didalamnya. Saya pikir supir angkot ini mau berusaha mencoba memperbaiki mesinnya. Dan daripada menunggu di luar yang udaranya lumayan panas maka saya pun tidak turun.

Namun alangkah terkejutnya dia menghampiri kami dan menanyakan kenapa yang terjadi pada mesinnya. Dan entah kenapa saya memberitahu apa yang perlu dilakukan supir itu terhadap mesin kendaraannya. Padahal itu hanyalah salah satu trik saja untuk bisa mengalihkan penumpang ke angkot lain. Meskipun pun kita tidak boleh curiga kepada orang. Tapi melihat gelagat-gelat supir, saya rasa dugaan saya tidak salah-salah amat. Ini saya buktikan ketika saya memberi uang kepadanya yang mana itu membuat raut wajahnya kelihatan ceria sekali.

Karena saya buru-buru saya lupa bahwa ada bungkusan yang saya letakkan di bawah kaki saya. Akhirnya saya baru teringat di rumah bahwa saya sudah meninggalkan bungkusan tersebut. Untung nilainya hanya Rp 5ribu. Coba nilainya diatas Rp 100ribu, mungkin orangtua saya akan marah besar. Oleh karena itu dari pengalaman diatas saya benar-benar mengambil pelajaran bahwa sikap waspada itu sangat penting. Meskipun kita sudah tahu bahwa tidak akan terjadi apa-apa tetap saja kita harus selalu waspada. Rutinitas yang kita kerjakan tidak lalu membuat kita menurunkan tingkat kewaspadaan.

Kita tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran setiap orang. Zaman sekarang uang itu dianggap segala-galanya. Orang bisa sampai bunuh-bunuhan hanya karena uang Rp 1000. Jadi seperti kata bang Napi, “Kejahatan itu bukan karena niat pelakunya saja tapi juga karena kesempatan WASPADALAH WASPADALAH !!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s