Pikiran Melahirkan Tindakan

Minggu pagi yang cerah ini saya diminta oleh ibu saya untuk memotong pohon kayu di halaman rumah yang sudah mengganggu tetangga. Menurut pendapat beliau, cabang dari pohon kayu itu sudah terlampau menjalar kemana-mana. Cahaya matahari yang ingin menyinari halaman tetangga itu pun menjadi terhalang akibat pohon kayu itu. Apalagi pohon ini memiliki dahan dan ranting yang lumayan keras sehingga bisa mencelakakan orang lain.

Pada awalnya saya menolak untuk membantu ibu saya dengan alasan bahwa pohon itu begitu penting bagi rindangnya halaman kami. Saya sering melepas lelah di bawah pohon itu tatkala habis bekerja. Mobil-mobil para tamu yang ingin parkir di halaman rumah kami terbantu dengan begitu rindangnya pohon kayu itu. Saya sangat menyayangkan sekali jika pohon itu harus dipotong begitu saja. Saya ingin membiarkan pohon itu berkembang dengan sesuka hatinya.

Namun ibu saya bersikukuh untuk mempertahankan pendapatnya. Beliau melihat bahwa pohon kayu itu akan lebih rapi dan indah jika di potong. Akhirnya pendapat ibu saya, saya terima karena memiliki argumen yang tidak dapat saya tolak.

Setelah menyelesaikan sarapan pagi maka saya pun mulai memotong dahan dan ranting dari pohon kayu tersebut. Sesuai arahan ibu saya satu per satu dahan dan ranting dari pohon kayu tersebut saya babat habis. Dan satu per satu pula cahaya matahari mulai menerobos masuk ke dalam halaman tetangga. Kerapian dan keindahan pagi yang begitu cerah pun mulai menunjukkkan eksistensinya.

Halaman kami menjadi begitu rapi dan indah tatkala saya selesai memotong semua dahan dan ranting yang menjalar dan mengganggu perjalanan orang di halaman dan tetangga kami. Saya baru sadar bahwa saya hampir saja menunda sebuah pendapat yang melahirkan pemikiran yang sangat jenius.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengarkan nasehat, pendapat dan saran orang lain. Apakah itu sebuah informasi bisnis, pendidikan, etika, karir, kesehatan dan hal-hal lain. Semua sudah tentu bermanfaat. Anehnya kita terlalu cepat mengambil kesimpulan sebelum mempelajari dulu manfaat dan mudharat dari sebuah informasi yang kita terima. Dan entah kenapa kesimpulan yang kita ambil itu selalu berawal yang negatifnya. Apa kekurangannya. Apa kelemahannya. Entah kenapa asumsi dan dugaan jelek itu selalu mendominasi pikiran kita. Padahal jika kita mau mempelajarinya dahulu ada banyak hal positif dari semua masukan orang lain itu.

Kita sebagai manusia memang memiliki otak yang bisa menampung trilyunan informasi. Tapi semua informasi tersebut belum tentu berguna bagi kita. Dan semua informasi itu belum tentu mengantarkan kita kepada pintu kesuksesan. Ada beberapa informasi yang mana jika diberikan kepada orang lain maka orang lain bisa memanfaatkannya lebih dari jika kita menampungnya. Sebab bisa jadi pengalaman dan pendidikan orang lain bisa memaksimalkan manfaat dari informasi tersebut. Itulah sebabnya orang sukses itu mau mendengarkan saran dan nasehat orang lain. Mereka sadar bahwa dirinya tidak sempurna. Sehingga mereka mau merendahkan diri mereka untuk mendengar dan menerima masukan dari orang lain.

Informasi yang baik melahirkan pikiran yang baik. Dan pikiran yang baik sudah pasti melahirkan tindakan yang baik pula. Oleh karena itu jangan pernah sekali-kali meremehkan sebuah informasi walaupun yang menyampaikannya orang yang derajatnya lebih rendah dari kita. Karena pengalaman dan pendidikan setiap orang itu sangat berbeda dengan kita. Siapa tahu informasi yang diolah oleh orang lain menjadi modal untuk kesuksesan yang akan kita raih di masa depan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s