Ilmu Adalah Kunci Kesejahteraan

Setiap hari Jumat seorang muslim diwajibkan menunaikan ibadah Shalat Jumat berjama’ah. Jika ada salah seorang yang mengaku muslim tapi tidak melaksanakan shalat itu maka ke-Islam-annya itu perlu ditanyakan.

Begitu pula dengan saya. Saya melaksanakan ibadah sekali seminggu itu di sebuah mesjid yang tidak jauh dari rumah saya. Saya berangkat dari rumah sekitar jam 12 siang. Dan tiba di mesjid tersebut sekitar kurang lebih 15 menit dengan berjalan kaki. Mungkin bisa lebih cepat  jika menggunakan kendaraan bermotor. Namun menurut hadits Nabi SAW, setiap muslim dianjurkan menuju mesjid dengan berjalan kaki. Ini tidak lain guna meraih pahala yang lebih besar. Itulah sebabnya saya lebih suka berjalan kaki ketika menghadiri Shalat Jumat berjama’ah.

Seperti biasa, sebelum melaksanakan shalat Jumat berjama’ah kita mendengarkan dahulu khutbah atau ceramah yang dibawakan oleh seorang yang berilmu atau yang dikenal dengan ulama. Jika tidak ada ulama bisa juga orang yang tahu tentang Islam dan rukun atau tatacara khutbah. Yang penting ada beberapa nasehat tentang Islam kepada peserta jama’ah sebelum melaksanakan shalat.

Khutbah kali ini dibawakan oleh seorang ulama yang berasal dari sebuah desa yang lumayan jauh dari desa saya. Tapi masih dalam wilayah kota tempat saya tinggal. Dia membawakan ceramah yang bertemakan tentang surga dan bagaimana meraihnya. Sebenarnya tema yang dibawakan oleh ulama tadi sudah pernah dibawakan oleh khatib (sebutan untuk yang membawakan khutbah atau ceramah)-khatib sebelumnya. Tapi karena kemasannya diramu sedemikian menarik maka mengundang orang untuk mendengarnya lebih antusias. Termasuk saya yang hampir ketiduran menjadi terbangun dan tekun mendengarnya.

Dari sekian banyak ceramah yang disampaikan, ada sebuah pembahasan yang sangat menarik perhatian saya dari ceramah khatib kali ini. Apa itu ? Itu adalah untuk mencapai dan mendapatkan surga kita harus menguasai ilmunya. Ya. Dengan ilmulah kita bisa mendapatkannya. Dengan ilmulah kita bisa masuk ke tempat yang penuh dengan kebahagiaan tersebut. Untuk memudahkan pemahaman pendengar, khatib melakukan analogi untuk mendapatkan ilmu meraih surga dengan ilmu menanam padi. Saya rasa ada ketidakcocokan antara ilmu menanam padi dan ilmu meraih surga. Sebab menanam padi sudah ada contohnya sehingga kita tinggal meniru saja. Sedangkan surga belum pernah ada orang yang pernah kesana dan kembali kepada kita untuk menceritakan pengalamannya kecuali Rasulullah SAW.

Terlepas cocok atau tidaknya analogi tersebut, saya berpikir memang untuk mendapatkan apa pun kita harus menguasai ilmu tentang apa yang menjadi tujuan atau cita-cita kita itu. Termasuk mencapai kesejahteraan atau mendapatkan kekayaan. Mana mungkin dan tidak masuk akal jika kita ingin berhasil mendapatkan kekayaan tapi kita mengambil sumber ilmu pengetahuan kepada orang yang miskin. Ini sama saja dengan membuang uang yang telah kita kumpulkan.

Menurut yang saya pahami, kekayaan adalah sebuah keadaan yang bisa mengantarkan kita kepada kesejahteraan. Namun begitu bukan berarti kekayaan menjadi syarat mendapatkan kesejahteraan. Bisa juga kesejahteraan itu diraih tanpa memperoleh kekayaan. Tapi biasanya kesejahteraan yang didapatkan tanpa kekayaan tidak akan berlangsung lama. Dan untuk memperoleh kekayaan kita harus memiliki ilmu pengetahuan tentang kekayaan.

Dahulu untuk memperoleh ilmu ini kita harus bekerja dahulu sekian tahun kepada orang kaya. Namun sekarang tidak lagi. Ilmu pengetahuan tentang mendapatkan kekayaan ini dapat kita peroleh tanpa harus bekerja dahulu dengan orang kaya. Karena ilmu ini sudah banyak ditulis oleh orang-orang kaya dalam buku-buku dan artikel-artikel. Kita bisa membeli, membaca dan mempraktekkannya langsung. Sudah banyak orang yang melakukannya dan berhasil.

Kita harus berterimakasih kepada orang kaya yang mau membagikan ilmunya. Sebab tidak mudah orang kaya ini bisa menulis. Apalagi di saat yang sama mereka harus mengembangkan usahanya. Kita tahu bahwa menulis adalah bukan keahlian orang kaya. Menulis itu menggunakan otak kiri. Sedangkan orang kaya sering menggunakan otak kanan. Jadi sangat susah untuk orang kaya menulis apa yang dilakukannya.

Meskipun begitu ilmu ini harus kita pelajari secepat mungkin. Karena memang sangat penting sekali dalam meraih kesejahteraan di dunia yang fana ini. Jika Anda kaya maka Anda sudah pasti akan sejahtera. Ini sudah hukum alam. Tapi memang manusia tidak bisa diharapkan berubah kecuali dirinya sendiri mau berubah. Anehnya adalah walaupun begitu banyak buku-buku tentang ilmu kekayaan di lapangan, tetap saja ada orang miskin. Entah kenapa mereka tidak mau membaca dan mempelajari buku-buku itu. Ada dugaan mereka sengaja miskin agar dapat mendapatkan bantuan pemerintah. 

Kalau saya lihat di lapangan, dugaan ini benar adanya. Sebab dari tahun ke tahun data orang-orang miskin tidak pernah menurun. Yang ada hanyalah terus menaik. Pemerintah semakin pusing dibuatnya. Namun begitu kita semua sadar dan sepakat bahwa ilmu adalah kunci mendapatkan kesejahteraan. Jika kita memiliki ilmu maka kita bisa mengatasi kemiskinan yang melanda. Karena kemiskinan tidak jauh dari kebodohan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s