Birokrat, Antara Keluarga dan Kewajiban

Nak, yang kita lakukan belum tentu sesuai dengan yang kita harapkan. Jika kita bukan keluarga mereka atau teman dekat dari kalangan mereka maka dipastikan kita akan diulur-ulur dan diarahkan kemana-mana. Padahal kita kan sama seperti yang lain yang hanya meminta hak kita“.

Kalimat diatas diucapkan oleh seorang rakyat kecil kepada keluarganya. Dia mengucapkan kalimat seperti itu karena kecewa dan sedih dengan pelayanan dari pemerintah untuk mendapatkan haknya. Pernyataan itu juga bukan sebuah fiksi atau omong kosong belaka. Tapi ini benar-benar terjadi di setiap aktivitas sebagai masyarakat ketika ingin menagih kewajiban pemerintah. Dan ini dibuktikan ketika seorang rakyat ingin cepat menyelesaikan sebuah persoalan yang menyangkut dengan pelayanan pemerintah. Khususnya masalah mendapatkan pelayanan kebutuhan umum rakyat. Ketika kegiatan itu dilakukan sering kali mereka menghadapi dinding tebal yang kaku. Dinding itu terasa makin tebal ketika sudah didekati. Semakin mendekatinya maka semakin tebal pula lapisannya. Entah kenapa.

Kita tahu bersama bahwa yang namanya pelayanan itu sudah pasti menyenangkan dan membahagiakan. Tapi sepertinya itu hanya ada di dalam buku-buku dan peraturan-peraturan yang tersimpan rapi di sebuah lemari sebuah perkantoran. Pada kenyataannya di lapangan setiap orang di kalangan pemerintahan berusaha memperkaya diri sendiri. Rasa-rasanya tidak satu pun orang di kelompok berbaju dinas itu yang cukup dengan gaji dan tunjangan yang diberikan. Semuanya seakan-akan berbondong-bondong demi meningkatkan penghasilannya mau menutup hati nuraninya dengan menghalalkan segala cara. Termasuk mempermainkan rakyat untuk memenuhi kebutuhan keluarga pribadi mereka.

Di dalam rangka menjalankan roda pemerintahan sebagai pelayan masyarakat, sudah seharusnya setiap orang yang mengabdikan dirinya untuk pemerintah harus mengutamakan pelayanan yang profesional tanpa mengharap imbalan. Ini disebabkan karena secara tak langsung dana yang digunakan untuk membiayai aparat pemerintah itu berasal murni dari rakyat. Meskipun ada juga dari penerimaan ekspor komoditas tapi penerimaan itu tidak sebanyak yang didapat dari pungutan yang ditagih dari rakyat. Karena tidak mungkin juga gaji mereka itu ditunda.

Namun anehnya mereka masih saja lupa akan hal ini. Mereka asyik mempermainkan rakyat demi memuaskan nafsu mereka. Mereka tidak peduli dengan bagaimana sengsaranya seorang rakyat di dalam mencari nafkah untuk keluarganya.

Memang benar setiap orang membutuhkan sumber penghasilan untuk membiayai hidup. Apakah itu untuk kebutuhan makan minum, pakaian, rumah, pendidikan, transportasi, kesehatan, hiburan dan lainnya. Dan untuk yang sudah berkeluarga mereka juga harus melakukan hal itu semua untuk anggota keluarga mereka. Mereka tidak mau mengecewakan keluarga yang disayanginya. Mereka ingin melihat keluarganya menggunakan pakaian baru, sepeda motor baru, mobil baru, handphone baru dan lainnya. Tak terkecuali aparat pemerintah itu sendiri. Sebab mereka tidak lain adalah mantan rakyat itu sendiri. Akan tetapi tidak berarti karena sumber penghasilan atau gaji mereka yang sedikit dan tidak tepat waktu terganggu lalu melampiaskannya kepada rakyat. Apalagi melampiaskan dengan meminta kompensasi yang sangat tinggi guna memuluskan pelayanan yang akan mereka berikan.

Ini sama saja membunuh sapi perahan di peternakan sapi milik sendiri. Apakah mereka tidak tahu bahwa jika rakyat tidak percaya lagi kepada pemerintah, mereka akan menggunakan hak mereka untuk menggugat secara hukum. Dan yang lebh parah mereka akan mengajak teman-teman mereka untuk melakukan hal tersebut. Yang mana jika hal itu dilakukan secara meluas bukan tidak mungkin membuat pemerintah sendiri kalang kabut seperti kebakaran jenggot.

    Coba pikir jika seluruh rakyat bersatu turun ke jalan apakah aparat pemerintah itu bisa mengamankan sumber penghasilan mereka. Tentu tidak bukan ? Disinilah perlunya kesadaran dari setiap aparat pemerintah bahwa rakyat itu bukan orang yang bisa dijadikan ajang balas dendam. Karena mereka memiliki kekuatan yang masih tidur. Sebuah kekuatan yang jika dibangkitkan akan menjadi besar, kuat dan bisa menghancurkan.

Marilah menjadi birokrasi yang ikhlas melayani dan membantu rakyat demi terselenggaranya pemerintah yang baik dan dipercaya rakyatnya. Bukankah negara yang memiliki pemerintah yang dipercaya rakyat menjadi ukuran terciptanya investasi dari luar yang berlimpah ? Sehingga dengan adanya investasi yang berlimpah tidak lama lagi negara itu akan menjadi negara yang kuat dan bermartabat dalam pandangan dunia internasional.{}


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s