Generasi Hitech

Beberapa waktu lalu rumah saya kedatangan tamu. Tamu itu ternyata adalah saudara jauh yang telah lama tidak berjumpa. Dia sekarang telah memiliki usaha kelontong yang berada hanya dalam jarak waktu perjalanan beberapa menit dari rumah saya.

Tidak ada yang menyangka dia memiliki usaha seperti itu. Dahulu dia bekerja di sebuah bank milik negara. Lokasinya berada di daerah tempat saya tinggal. Namun beberapa tahun kemudian akibat krisis moneter, bank tempat dia bekerja itu digabungkan dengan empat bank pemerintah lainnya atau merger. Kejadian tersebut membuatnya terkena program pemutusan hubungan kerja. Akan tetapi pemutusan hubungan kerja itu tidaklah seperti yang ada di berita-berita. Dia mendapatkan pesangon yang disesuaikan dengan masa kerjanya.

Untunglah dia tidak melanjutkan karir. Sebab jika sebaliknya mungkin dia tidak bisa seperti sekarang ini. Dia memutuskan untuk berwirausaha dengan modal tabungan ditambah dengan uang pesangon. Dan dia memilih usaha di bidang kelontong. Alasannya sederhana. Lebih cepat balik modal. Sehingga sekarang dia sudah tenang dan jalan-jalan kesana kemari karena ada usaha yang bisa dibilang mapan.

Itu cerita lain. Ada yang lebih yang menarik. Anaknya yang masih sekolah dasar memiliki cerita menarik. Anaknya itu pendiam sekali. Pada saat kami berbicara panjang lebar dia tidak pernah minta pulang. Tidak seperti anak-anak lainnya. Yang selalu minta pulang ketika tidak diikutkan dalam berbicara. Dan dia begitu tenangnya mendengarkan kami berdiskusi. Pada saat tertentu dia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Dan pada saat yang lain dia mengembalikannya ke kantongnya.

Setelah beberapa kali dia mengeluarkan dan memasukkan alat aneh itu maka saya pun menanyakan apa yang dilakukannya. Ternyata itu adalah sebuah alat telekomunikasi seluler atau yang lebih dikenal ponsel. Beberapa kali dia melihat ponselnya setiap kami sedang berbicara. Entah ada apa di ponsel itu.

Ketika saya tanyakan lagi dia langsung menjelaskan bahwa dia sedang berkomunikasi dengan temannya melalui sistem jaringan komputer internasional atau yang lebih dikenal dengan nama internet. Dia juga menyebutkan dia menggunakan salah satu situs jejaring sosial untuk melakukan komunikasi dengan temannya.

Saya sudah tahu bahwa situs itu memang sudah cukup terkenal di seluruh dunia. Hampir 500 juta jiwa penggunanya. Saya tidak heran jika situs itu bisa begitu terkenal ke seluruh dunia. Karena memang setiap koran sering membahasnya. Namun yang saya herankan kenapa situs jejaring sosial mampu membuat seorang anak yang masih duduk di sekolah dasar mengetahuinya. Apalagi bisa menggunakannya. Muncul pertanyaan di dalam benak saya, siapa yang mengajarinya ? Mengapa dia mau berkomunikasi dengan temannya menggunakan alat itu ? Apa yang membuat alat itu menjadi begitu menarik bagi anak seusianya ? Dimana dia mengetahui bahwa ada situs jejaring sosial yang bisa digunakan sebagai komunikasi ? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengusik benak saya.

Namun itulah kenyataan sekarang. Di zaman yang sedang maraknya teknologi telekomunikasi dan elektronika, tua dan muda tidak luput dari serangan barang-barang berteknologi canggih. Mereka semua mau tidak mau harus ikut dalam percaturan perdagangan barang berteknologi. Apakah itu ponsel, internet, smartphone dan sebagainya.

Mungkin ada sebagian orang yang merasa bahwa teknologi canggih itu tidak penting. Buang-buang uang. Tapi bagaimana kalau anak semata wayangnya menginginkannya. Apakah dia tega untuk tidak membelinya ?

Disinilah letak pentingnya wawasan di setiap orang. Wawasan dimana dia tidak akan gagap ketika ada anak kesayangannya menginginkan agar dia membeli sebuah produk teknologi.

Kita boleh mencibir sebuah ciptaan teknologi. Kita boleh tidak mau menggunakannya. Tapi percayalah suatu saat nanti akan ada saja pihak yang membuat dorongan agar kita mau untuk membelinya. Di saat itu kita akan malu mengapa kita dahulu mengucapkan hal yang membuat orang menganggap kita tidak suka dengan teknologi. Ini tidak lain karena kita adalah makhluk sosial yang tidak mungkin bisa mengasingkan diri dari lingkungan.

Ada saudara saya yang telah membeli produk teknologi mutakhir seperti produk diatas. Saya menanyakan mengapa dia membelinya. Dengan enteng dia menjawab bahwa untuk bergaul kita harus memiliki produk gaul. Sungguh sebuah jawaban yang padat makna.

Zaman sekarang jika seseorang tidak memiliki produk teknologi canggih akan dianggap terasing dari pergaulan. Apalagi sampai gagap teknologi. Pasti akan dijauhi masyarakat. Sungguh sebuah keadaan yang sangat kita takuti. Keadaan yang mampu mendatangkan kerugian dalam bentuk materi pada masa mendatang.

Teknologi canggih memang tidak semua dibutuhkan. Tapi ingat jika produk teknologi canggih itu sudah digunakan oleh kebanyakan orang sebaiknya Anda mulai untuk mempelajarinya. Sebab tidak lama lagi orang yang paling Anda hormati atau Anda cintai akan menanyakan kepada Anda apakah Anda bisa menggunakannya.{}


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s