Orang Kaya Tidak Boleh Komplain

Dua hari yang lalu saya pergi ke sebuah supermarket di bilangan jalan kota tempat tinggal saya. Kebetulan ibu saya ikut serta dalam kegiatan rutin setiap minggu tersebut. Sesampainya kami di tempat belanja itu, langsung saja kami menelusuri setiap rak-rak yang bertelekan barang-barang kebutuhan sehari-hari masyarakat. Seperti sabun, shampo, snack, gula, buah-buahan, parfum, baju, celana, alat-alat dapur, alat-alat masak dan sebagainya. Semua tertata rapi dan begitu mempesona setiap pelanggan dan calon pelanggan. Pada awalnya niat kami hanya untuk melihat-lihat saja. Tapi setelah melihat-lihat maka kami pun berpikir untuk mulai belanja.

Seperti layaknya seorang pelancong atau pengunjung supermarket, sebelum kami belanja dan membawanya ke kasir, kami pun mulai meneliti setiap barang yang kami anggap cocok. Baik itu kualitas, model, tren dan yang paling penting adalah harganya. Ya harga adalah masalah utama kami. Yang mana selisih beberapa ribu saja akan kami perhatikan sekali. Maklum kami bukanlah dari kalangan atas yang mudah mendapatkan uang.

Akhirnya kami tiba pada sebuah rak yang disitu diletakkan beberapa celana pendek. Celana-celana yang terletak di tempat itu begitu menarik perhatian kami. Sebab selain harganya terjangkau, kualitasnya juga lumayan. Dan setelah merasa cocok maka kami pun selesai untuk memilih barang-barang yang kami inginkan dan tentunya yang kami butuhkan. Kemudian kami membawa barang-barang itu ke meja kasir untuk menyelesaikan kegiatan belanja kami.

Sesampainya kami di kasir, sang kasir mulai untuk mengecek barang-barang itu dan mulai melakukan scan (alat pemindai harga). Namun setelah sang kasir itu selesai mengecek dan menjumlahkan semua nilainya, alangkah terkejutnya kami bahwa harganya telah mencapai hampir 300 ribu. Tapi tidak apa-apa, nilai itu terjangkau bagi uang kami. Namun yang menjadi pertanyaan kami adalah mengapa ada satu barang yang tidak masuk dalam pengecekan. Ketika kami menanyakan kepada sang kasir, alasannya barang itu sudah lama tidak ada stok. Kami pun mengiyakan mengingat ada kegiatan kami yang lain yang harus kami selesaikan hari itu juga. Waktu sudah menunjukkan hampir menjelang waktu sholat. Kami pun keluar dari supermarket tersebut.

Sesampainya kami di rumah, kami pun mengecek setiap barang belanjaan kami. Kami takut jika ada barang yang ketinggalan. Alangkah terkejutnya kami bahwa ternyata ada harga di dalam struk harga yang tidak sesuai dengan yang kami lihat pada rak barang. Disitu tertera nilai 25.900. Sementara di struk harga tertera 69.900. Ada selisih 44.000. Kami merasa kecewa sekali karena kami merasa tertipu. Tapi saya selaku pribadi tidak mempermasalahkan hal itu karena memang kondisi ekonomi kota ini yang masih tidak berkembang. Saya anggap itu adalah hal biasa dalam bisnis yang menggunakan trik-trik promosi tertentu yang menarik pembeli. Tapi orangtua saya yang terbiasa dengan ketelitian merasa sangat terpukul. Mereka mendesak saya untuk mengurus hal tersebut. Singkat cerita ibu saya berencana untuk mendatangi petugas dari supermarket tersebut untuk melakukan komplain atas ketidakjelasan harga.

Terlepas dari itu semua, di dalam kegiatan dan aktivitas kita sehari-hari, sebagian besar kita seringkali menemukan dan mengalami kasus seperti cerita diatas. Apakah itu dikecewakan dengan pelayanan pemerintah, pencurian, ketidakjelasan harga barang yang dibeli, pungutan liar dan sebagainya. Semua itu sungguh membuat kita ingin memberontak. Kita ingin melakukan sebuah tindakan yang bisa memuaskan nafsu kita. Kita ingin menegakan keadilan dalam pengertian kita sendiri. Tapi sebelum kita melakukannya, apakah pernah kita menyadari bahwa tindakan itu bisa merugikan harga diri kita. Dan apakah kita pernah bertanya pada diri kita sendiri bahwa tindakan kita itu bisa merugikan orang lain. Contohnya seperti cerita diatas. Jika benar ada kesalahan pada petugas sewaktu pengecekan sudah pasti petugas itu akan mengalami pemecatan dari pimpinannya. Bagaimana tidak.

Sebagai pimpinan supermarket pasti menganggap peristiwa itu adalah peristiwa yang bisa menghancurkan citra yang telah dibangun sejak lama. Sebab citra menentukan kepercayaan. Jika citra buruk bagaimana mungkin bisa meningkatkan omzet. Bukankah omzet tergantung dari tingkat kepercayaan masyarakat yang mana menentukan tingkat kunjungan.

Memang dari sisi pembeli itu merugikan. Tapi kan masih dapat terjangkau. Lagipula kebutuhan kita sudah terpenuhi. Sementara petugas itu akan kehilangan pekerjaan. Mungkin saja pekerjaannya itu untuk membiayai adik-adiknya sekolah. Atau untuk membiayai ibunya yang sakit. Pernahkah kita menyadarinya ? Apakah hanya karena selisih uang yang cuma 44.000 kita harus mengikuti hawa nafsu kita yang pelit ? Apakah hanya karena selisih uang yang cuma 44.000 kita menghancurkan kehidupan orang lain ?

Ada penulis terkenal yang mengatakan bahwa orang kaya itu tidak pernah komplain. Hanya orang miskin yang sering komplain. Saya tidak mengatakan orang tua saya orang miskin. Karena mereka pasti juga memiliki alasan yang tepat. Namun yang ingin saya tekankan disini adalah mengapa kita sering meributkan selisih harga yang kecil sementara kita tidak pernah menanyakan mengapa kita meributkannya. Mengapa kita tidak pernah berpikir bagaimana kalau kita berada di tempat yang sama. Mengapa kita sering pelit terhadap sesuatu yang mendatangkan uang kepada kita dibanding dengan apa yang membuat uang menjauh dari kita.

Mungkin inilah penyebab kita tidak pernah bisa menjadi milyarder seperti orang-orang yang masuk dalam daftar orang-orang kaya di dunia itu. Kita sering meributkan masalah selisih ribuan dibanding dengan menciptakan ribuan. Kita sering menghabskan uang untuk hal-hal yang tidak berguna dibandingkan dengan hal-hal yang memang membuat kita bertambah kaya dan sukses.

Jadi saya sangat setuju dengan perkataan seorang milyarder bahwa kaya dan miskin itu bukanlah terletak pada jumlah uang yang dimiliki. Tapi terletak pada pikiran seseorang. Jika pikiran seseorang itu miskin maka beberapa juta uang ditangannya pun akan sia-sia. Namun jika pikiran seseorang itu kaya maka ketika dia tidak memiliki uang sedikitpun dia akan tetap menjadi orang kaya. Sebab orang kaya itu tidak pernah komplain.

Mau tahu selanjutnya ? Ikuti terus artikel-artikel berikutnya di situs ini….{}


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s