Banyak Teman Banyak Uang

Tadi pagi saya diminta oleh orangtua saya untuk membeli beberapa barang kebutuhan pokok sehari-hari seperti ikan, sayur, tempe, bawang, cabe dan sebagainya di pasar kota. Berhubung saya tidak ada kegiatan maka saya pun menyanggupinya.

Seperti biasa saya berangkat dari rumah sekitar jam 9 pagi. Sebab waktu itu cuaca sangat mendukung untuk bepergian ke luar rumah. Maklum akhir-akhir ini di daerah saya jika siang hari, cuaca sangatlah panas dan menyengat. Sehingga jarang sekali orang yang ingin bepergian ke luar rumah diatas jam 12 siang.

Karena kami belum memiliki kendaraan pribadi maka saya harus menuju tempat pemberhentian kendaraan angkutan umum atau kota dengan berjalan kaki. Yang mana jaraknya harus ditempuh kira-kira 300 m. Dengan maksud sesampainya saya di sana kemudian saya bisa naik kendaraan itu.

Belum ada setengah perjalanan, alangkah terkejutnya saya ketika berhenti sebuah mobil keluarga merk terkenal berwarna hitam di samping kiri saya. Saya pikir ada orang yang tersesat dan ingin bertanya arah jalan. Tapi rupanya sang pengemudi adalah seorang tetangga depan rumah yang sering melakukan aktivitas usaha rental mobilnya. Karena dia mengajak saya untuk ikut maka saya pun masuk ke dalam mobilnya. Saya cukup bersyukur karena bisa menghemat biaya transportasi.

Suasana di dalam mobilnya cukup nyaman. Setiap bagian di dalam mobilnya terlihat rapi dan bersih. Tidak rugi buat seorang pengusaha kecil yang sedang mengelola usaha rental mobil. Tidak seperti seorang pengusaha lainnya, Mr. D (bukan nama sebenarnya) ini sangat ramah di dalam berbicara dengan saya. Saya tidak menyangka dengan raut muka hitam, kurus, dan tinggi serta isu dari orang-orang yang menganggapnya tidak baik, Mr. D ini tampak luwes di dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Sifatnya sangat jauh sekali dari apa yang dikatakan oleh orang-orang di tempat saya itu.

Disini saya belajar bahwa tidak semua orang yang dianggap jahat oleh masyarakat benar-benar jahat sifat dan karakternya. Dan pasti ada sebuah alasan yang masuk akal mengapa dia bisa bersikap seperti itu dengan masyarakat sekitar. Entah itu karena harga dirinya direndahkan atau memang karena ada anggota masyarakat yang sentimen begitu saja tanpa ada penyelidikan yang lengkap sehingga mempengaruhi seluruh masyarakat lainnya. Walaupun begitu saya cukup waspada dengan segala ancaman yang mungkin datang. Lagipula tema pembicaraan kami tidaklah terlalu pribadi sekali. Jadi untuk apa saya merasa takut.

Di dalam pembicaraan itu saya menanyakan tentang usahanya. Bagaimana akhir-akhir ini dan prospek usaha ke depan. Saya juga menanyakan tentang rumah yang dijual di sekitar tempat tinggalnya. Karena pernah ada saya lihat iklan di koran tentang rumah tersebut. Cuma karena saya sibuk, saya tidak sempat untuk menanyakannya. Singkat cerita saya pun diantarnya langsung ke pasar. Padahal dia tidak ada niat untuk kesana. Mungkin karena saya berusaha menyelesaikan permasalahannya maka dia ingin membalas dengan mengantarkannya ke tempat tujuan saya. Akhirnya saya turun dan tidak lupa saya memberinya kartu nama saya dengan maksud jika suatu saat nanti ada peluang bisnis atau permasalahan yang bisa didiskusikan, dia bisa menghubungi saya. Dan kami pun berpisah.

Dari cerita diatas, kita bisa mempelajari bahwa di dalam kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan dengan persoalan sosial yang saya rasa itu hanya masalah kecil. Terkadang kita lebih suka membesar-besarkannya hanya karena orang lain membesar-besarkannya. Apalagi yang membesar-besarkannya adalah orang penting. Kita terpengaruh dengan analisanya tentang apa pun dan siapapun. Alasannya sederhana. Dia itu orang penting dan tokoh masyarakat. Sudah pasti tidak akan salah dengan semua penilaiannya. Padahal belum tentu yang digembor-gembokan itu benar-benar sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Bisa jadi karena sentimen atau emosi belaka.

Saya pun tidak luput terpengaruh seperti diatas. Hanya karena yang mengatakannya adalah orang penting maka saya 100% mempercayainya. Lalu timbullah prasangka dan dugaan yang akibatnya saya tidak mendapatkan tambahan teman baru.

Seperti yang sudah saya katakan pada artikel sebelumnya, uang itu hanya akan berguna jika ada dua orang saling berinteraksi satu sama lainnya. Sebab antara satu dan lainnya pasti akan tercipta sebuah pemenuhan kebutuhan antar sesama. Pemenuhan itu akan berujung dengan penggunaan uang sebagai alat pertukarannya. Jadi memiliki banyak teman akan berdampak pada kenaikan jumlah uang yang akan kita terima.

Inilah yang menjadi alasan mengapa orang-orang kaya selalu memperbaiki penampilannya. Sebab dengan penampilan yang selalu keren dan necis itu akan membuat orang, teman atau relasi, mau berinteraksi dengannya. Dengan begitu peluang-peluang bisnis pun mudah diraih. Jika peluang-peluang bisnis mudah diperoleh, bukan tidak mungkin uang pun akan mengalir ke rekening kita.

Oleh karena itu saya setuju dengan sebuah pepatah bijak yang berbunyi, “TUHAN PASTI TIDAK MENCIPTAKAN KITA UNTUK MENJADI KAYA, BERKUASA ATAU LUAR BIASA, NAMUN DIA MENCIPTAKAN KITA UNTUK BERTEMAN”. Lalu pertanyaannya adalah, Apakah Anda sudah mendapatkan teman baru hari ini ? {}


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s