Vonis Dokter Tidak Selamanya Benar

Pernahkah Anda divonis akan segera mati ? Apa yang terjadi setelah Anda divonis dokter pribadi Anda, bahwa hidup Anda tidak lama lagi ? Bagaimana perasaan Anda ? Bagaimana nasib istri dan keturunan Anda ? Bagaimana dengan pekerjan dan bisnis Anda ? Bagaimana dengan utang-utang Anda ? Siapa yang memikirkannya tatkala Anda sudah mati ? Sangat membingungkan, bukan ?

Segala kekhawatiran diatas muncul tatkala mendengar pernyataan orang yang sangat kita percaya tentang keahliannya mengatakan tentang hidup kita. Seakan-akan semua impian kita hilang begitu saja. Rasa-rasanya semua yang ada di langit akan jatuh mengenai kepala kita.

Namun apa yang terjadi setelah itu ? Apa yang terjadi setelah Anda benar-benar melewati batas waktu yang dokter pribadi Anda katakan ? Apakah Anda benar-benar mati ? Apakah dugaan dokter Anda benar ?

Sejauh yang saya ketahui, sebenarnya dokter itu tidak memiliki ilmu pengetahuan apa pun tentang kematian. Jika dia memiliki ilmu pengetahuan tentang kapan dan dimana seseorang akan mati tentu dia akan menyelamatkan diri dan keluarganya sendiri. Dan dia tidak perlu mengambil pendidikan dokter. Ya iya. Sebab toh dia akan mati. Jadi untuk apa semua perjuangan memperoleh gelar itu. Dan untuk apa pengumpulan harta yang dia lakukan. Kita kan tahu bahwa pada umumnya dokter itu banyak hartanya. Kalau dia tahu kapan dia mati, kayaknya dia cuma buang-buang waktu saja.

Lagipula pengalamannya menyembuhkan orang tidak bisa dijadikan rujukan ke semua orang. Setiap orang memiliki karakteristik tubuh yang berbeda-beda. Perlu Anda ketahui bahwa dokter itu manusia. Sebagai manusia sudah tentu sarat akan kelemahan. Dan akhirnya yang namanya manusia itu dia pasti akan mati. Begitu juga dengan dokter.

Akan tetapi bukan berarti dokter itu tidak boleh dipercaya. Dia tetap menjadi rujukan kesehatan kita. Karena dia memang terbukti berpendidikan dan berpengalaman menggeluti aspek-aspek kesehatan seseorang. Ini bisa kita lihat dari riwayat pendidikan seorang dokter yang cukup lama. Dan setiap dokter pasti melewati serangkaian tes dan ujicoba kelayakan yang diselenggarakan oleh pemerintah dimana panitia penyelenggaranya terdiri dari orang-orang yang memang ahli dan berpengalaman. Anggota panitia ini sudah lama malang melintang di dunia kesehatan. Sehingga kita akan mempercayai semua keputusannya.

Beberapa hari yang lalu saya membaca koran bahwa ada seorang dokter spesialis anak yang meninggal dunia. Dia meninggal pada umur 42 tahun. Timbul pertanyaan. Padahal kan dia seorang dokter. Tapi mengapa dia mati ? Apakah dia tidak bisa menjaga kesehatannya ? Disini kita bisa mengambil hikmah bahwa dokter itu bisa mati juga. Salah besar bagi orang yang mengatakan bahwa dokter itu tidak pernah sakit dan tidak akan mati karena ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Ingat dokter itu manusia biasa. Dia pasti ada kelemahan dan kekurangannya.

Jika Anda divonis oleh dokter pribadi Anda bahwa Anda akan mati dalam waktu tidak lama lagi, jangan Anda percaya. Ini adalah vonis yang sesat dan menyesatkan. Ini diluar kemampuan manusia. Tidak ada manusia yang bisa mengetahui kapan seseorang itu akan mati. Jangankan orang lain, dirinya sendiri saja dia tidak mengetahuinya. Bahkan menurut hadits-hadits yang kita baca, Nabi dan Rasul kita Muhammad SAW saja tidak mengetahui kapan kematian itu. Apalagi dokter. Padahal kita kan tahu beliau itu utusan Allah SWT.

Boleh-boleh saja seorang dokter menyampaikan pendapatnya. Boleh-boleh saja dokter mengatakan A atau B atau C. Tapi ingat pendapatnya itu tidak boleh melampaui batas kemampuan sebagai manusia. Apalagi mendahului Allah SWT. Cukup dia mengatakan dalam kapasitas sebagai saran. Bukan sebagai kebenaran mutlak yang bisa dipastikan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s