Hei Para Bankir Baca ini !!

Jakarta, Di samping keuntungannya yang luar biasa, investasi di bidang keuangan juga memiliki konsekuensi kesehatan yang berisiko. Banyak bankir yang mengalami gangguan mental, mengidap penyakit dan bahkan beberapa di antaranya memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri karena tekanan pekerjaan.

Investasi di bidang perbankan telah lama menjadi tujuan bagi orang-orang ambisius yang mendambakan persaingan kekayaan dan kemewahan. Bekerja selama 100 jam per minggu sudah dianggap sebagai tantangan pekerjaan bagi bankir ini.

Namun segigih apapun usahanya, para bankir ini juga manusia. Di bawah tekanan besar dari pekerjaan, banyak bankir yang menderita gangguan kepribadian dan emosional. Beberapa orang bankir masih mengalami gangguan tersebut untuk waktu yang lama bahkan setelah meninggalkan profesinya.

Seorang peneliti dari University of Southern California menemukan bahwa insomnia, kecanduan alkohol, jantung berdebar, gangguan makan dan ledakan emosi banyak dialami bankir yang baru lulus dari sekolah bisnis. Semua peserta penelitian yang diamati selama lebih dari sepuluh tahun kemudian mengidap penyakit yang disebabkan stres atau kelelahan dalam beberapa tahun karena pekerjaannya.

Penelitian ini dilakukan selama sepuluh tahun terhadap dua bank diWall StreetWall Street adalah sebuah nama sebuah jalan di pinggiran kota Manhattan, New York, tempat perdagangan saham dan perusahaan keuangan penting di Amerika Serikat.

Alexandra Michel, asisten profesor manajemen di University of Southern California School of Business, mengamati para bankir Wall Street di kantor dengan cara duduk di samping mereka, mengikuti pertemuan, mencatat jam kerja mereka, dan bahkan ikut lembur selama lebih dari 100 jam seminggu pada tahun pertama, sekitar 80 jam seminggu pada tahun kedua dan kemudian ditindaklanjuti dengan wawancara.

Selama dua tahun pertama, para bankir bekerja rata-rata 80-120 jam seminggu dengan bersemangat dan energik. Biasanya tiba pada pukul 6 pagi dan meninggalkan kantor sekitar tengah malam.

“Pada tahun keempat, banyak bankir yang berantakan. Ada yang kurang tidur dan menyalahkan tubuhnya karena tidak mampu menyelesaikan pekerjaan. Sementara lainnya mengalami alergi dan kecanduan narkoba. Sisanya didiagnosis dengan penyakit jangka panjang seperti, psoriasis arthritis, penyakit Crohn, radang sendi dan gangguan hormon,” kata Michel seperti dilansir Wall Street Journal, Jumat (17/2/2012).

Sementara itu, tunjangan perusahaan yang ditawarkan kepada karyawan secara bertahap mengaburkan batas antara pekerjaan dan kehidupan para bankir ini. Seorang wakil presiden menggambarkan pekerjaannya sebagai mimpi buruk yang tanpa akhir, ia bangun pagi dan berharap hari sebelumnya hanya mimpi buruk.

Pada tahun keenam, para peserta penelitian yang memasuki usia pertengahan 30 tahunan telah terpecah menjadi dua kubu. Sebanyak 60% peserta tetap bekerja keras dan memprioritaskan pekerjaan. Sedangkan 40% sisanya memutuskan untuk memprioritaskan kesehatan, memperhatikan tidur, olahraga dan pola makan. Sekitar seperlima dari para bankir kemudian meninggalkan profesinya.

“Bankir memiliki risiko tinggi mengalami kejenuhan dan gangguan kesehatan mental karena tekanan pekerjaannya,” kata Alden Cass, psikolog klinis yang berpraktik di New York.

Dalam sebuah penelitian terhadap 26 pialang saham yang dilakukan sepuluh tahun lalu, Cass menemukan hampir seperempat peserta penelitiannya mengalami depresi tiga kali lipat lebih berat dibandingkan kebanyakan orang. Padahal itu terjadi ketika ekonomi sedang booming dan tingkat gaji sedang tinggi-tingginya.

Krisis ekonomi baru-baru ini menyebabkan terjadinya kenaikan tingkat stres pada karyawan Wall Street. Terdapat sekitar 40 klien dari Wall Street yang berkonsultasi dengan Cass setiap minggu.

Sebagian besar kliennya itu mencari bantuan karena hubungan pribadinya dipengaruhi oleh pekerjaan. Beberapa klien kemudian kecanduan obat seperti Adderall atau Ritalin untuk mengatasi depresi. Kebanyakan kliennya mengalami ‘depersonalisasi’, yaitu perasaan mati rasa terhadap dunia. Beberapa di antaranya bahkan telah bunuh diri.

“Itulah alasan mengapa tidak banyak ditemukan bankir investasi yang berusia tua. Ini kehidupan yang sulit,” kata Mr DeGarmo, mantan direktur Salomon Brothers, salah satu bank ternama yang berinvestasi di Wall Street.

Sumber : http://health.detik.com/read/2012/02/17/142733/1845130/763/gangguan-kesehatan-serius-banyak-dialami-bankir?l1101755


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s