Negara-negara Pen-Subsidi BBM di Seluruh Dunia

VIVAnews – International Energy Agency (IEA) merilis daftar penting yang mencengangkan banyak kalangan di Tanah Air. Forum energi 28 negara yang berbasis di Paris itu mencatat Indonesia kini menjadi negara nomor sembilan yang paling besar mengucurkan dana subsidi bahan bakar fosil. Indonesia duduk sederet dengan negara-negara kaya penghasil minyak bumi terbesar dunia.

Menurut data yang dirilis IEA, Senin 9 April 2012, pada 2010 lalu Indonesia menghabiskan dana subsidi bahan bakar minyak (BBM) hingga US$15,9 miliar, hanya terpaut sedikit di bawah Venezuela dan Uni Emirat Arab yang masing-masing memberi subsidi US$20 miliar dan US$18,2 miliar.

Indonesia bahkan berada di atas negara-negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia yang menempati posisi 14 dan 19 dalam daftar Top 25 Fossil-fuel Consumption Subsidies 2010 yang belum lama ini dikeluarkan.

Besaran subsidi bahan bakar itu dihitung dari selisih harga referensi dengan harga akhir konsumen, dikali total konsumsi bahan bakar dalam setahun di suatu negara. Sementara itu, harga referensi diperoleh dari harga bahan bakar internasional plus minus biaya pengapalan dan asuransi, serta ditambah ongkos distribusi lokal dan pajak.

Bahan bakar jenis Premium di Indonesia hanya dijual Rp4.500 atau sekitar US$0,5 per liter. Ini jauh lebih murah dibandingkan di negara-negara lain, yang harganya mendekati atau bahkan lebih dari US$1 per liter.

Dalam catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI, realisasi dana subsidi bahan bakar fosil mencapai Rp76 triliun pada tahun 2010. Sebesar Rp61,07 triliun untuk subsidi BBM, sedangkan sisanya, Rp14,39 triliun, merupakan subsidi gas elpiji 3 kilogram. Angka ini melonjak menjadi Rp165,16 triliun pada 2011 (Rp142,92 triliun subsidi BBM dan Rp22,24 triliun subsidi elpiji 3 kg).

Daftar 25 negara dengan subsidi bahan bakar terbesar (dalam miliar dolar AS):

 

1 Iran 80,8 14 Thailand 8,5
2 Arab Saudi 43,5 15 Ukraine 7,7
3 Rusia 39,2 16 Kuwait 7,6
4 India 22,3 17 Pakistan 7,3
5 China 21,3 18 Argentina 6,5
6 Mesir 20,3 19 Malaysia 5,7
7 Venezuela 20,0 20 Bangladesh 5,0
8 Uni Emirat Arab 18,2 21 Turkmenistan 5,0
9 Indonesia 15,9 22 Kazakhstan 4,3
10 Uzbekistan 11,9 23 Libya 4,2
11 Irak 11,3 24 Qatar 4,2
12 Algeria 10,6 25 Ekuador 3,7
13 Meksiko 9,5

 

Pemerintah sebenarnya telah merasa bahwa beban subsidi bahan bakar ini sudah teramat besar. Pemerintah telah mengajukan revisi anggaran, namun–di tengah hiruk-pikuk gelombang demonstrasi menentang kenaikan harga BBM–DPR RI menolaknya. Mayoritas anggota Dewan hanya menyetujui alokasi anggaran subsidi BBM senilai Rp137 triliun, subsidi listrik Rp65 triliun, dan cadangan fiskal Rp23 triliun.

Angka ini sebenarnya jauh dari perkiraan pemerintah, yang bila harga Premium tetap dipertahankan Rp4.500 per liter, maka saat harga minyak dunia melampaui US$100 per barel, dana subsidi BBM tanpa ampun akan membengkak menjadi Rp178 triliun.

Situasi ini, meminjam istilah Bank Dunia, telah membuat Indonesia menjadi korban dari pertumbuhan ekonominya sendiri. Ekonomi yang melesat telah meningkatkan jumlah kendaraan bermotor, dan pada gilirannya semakin rakus menyedot BBM bersubsidi. “Indonesia menjadi ‘korban’ atas keberhasilan ekonominya sendiri,” kata Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia, Shubham Chadhuri.

Bank Dunia was-was. Soalnya, lembaga ini menilai kondisi fiskal Indonesia pada 2008 berbeda dengan situasi saat ini. Pada 2008, lonjakan harga minyak dunia masih mampu dihadapi pemerintah, karena kondisi keuangan yang cukup baik. Pada periode itu, anggaran Indonesia juga masih cukup kuat menanggung beban subsidi BBM. Sekarang, kocek Republik tak setebal itu lagi.

Menghemat BBM

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Prof. Dr. Widjajono Partowidagdo–dia memberi catatan bahwa pendapatnya ini disampaikan dalam kapasitasnya sebagai pribadi–menyatakan pendapatan pemerintah dari minyak selama ini habis untuk mensubsidi harga BBM. Untuk itu, diperlukan langkah penghematan serius agar dana subsidi bisa diarahkan tepat sasaran pada masyarakat yang membutuhkan.

“Ketergantungan yang berlebihan terhadap minyak dan luar negeri adalah ketidakmandirian. Tidak menggunakan energi yang kita miliki secara optimal adalah tidak bijaksana,” kata Widjajono dalam surat elektroniknya kepada VIVAnews, Senin, 9 April.

Menurut Widjajono, sedikitnya ada 14 langkah penghematan yang bisa dilakukan masyarakat untuk menggembosi dana subsidi BBM. Empat di antaranya berkaitan langsung dengan konsumsi BBM jenis Premium, Pertamax, dan Solar.

Pakar energi ini mengusulkan perlu ditetapkan pengaturan jenis kendaraan yang berhak menggunakan BBM jenis Premium, Pertamax, dan Premix. Widjajono mengusulkan agar mobil pribadi dengan kapasitas mesin 1.500 cc ke atas diharuskan menggunakan Pertamax. Premium hanya boleh digunakan oleh angkutan umum dan sepeda motor.

Untuk mobil pribadi di bawah 1.500 cc, dia mengusulkan agar diatur untuk menggunakan Premix. BBM Ini merupakan campuran 50 persen Premium dan 50 persen Pertamax.

Guru besar energi dari Institut Teknologi Bandung ini hakulyakin pengaturan semacam itu bisa diterapkan di lapangan.

Selain itu, dia juga mengusulkan agar masyarakat didorong untuk menggunakan alat yang dinamai HHO (Hydrogen Booster) seharga Rp800 ribu yang diklaim mampu menghemat bensin sampai di atas 30 persen. Alat ini ditemukan oleh Prof Djoko Sungkono dari Institut Teknologi Surabaya.

Sumber : Viva News


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s