Membangun Bisnis

Saya punya teman. Katakanlah namanya Bang Z. Bang Z ini orangnya sangat ramah. Usianya kira-kira sekitar 10 tahun lebih tua dari Saya. Dia memiliki keluarga kecil yang kelihatannya Saya lihat cukup bahagia. Dia tinggal di sekitar lingkungan Saya tinggal. Kira-kira 5 rumah dari rumah Saya. Terus terang Saya sangat iri sekaligus mengaguminya. Soalnya pemikirannya sangat jauh ke depan. Kata orang pintar, sangat VISIONER. Yah gitulah. Maaf kalo Saya salah dalam menyebutnya. Maklum orang awam. He..he…he

Dan terus terang Saya bisa seperti saat sekarang ini tidak lebih karena mengikuti beberapa sarannya. Padahal beberapa tahun yang lalu, Saya sempat frustasi dalam hidup. Karena Saya tidak tahu apa lagi yang harus Saya lakukan agar bisa keluar dari segala permasalahan hidup yang Saya alami. Namun setelah mendengar Bang Z ini berbicara dan memberi nasehat serta saran kepada Saya, pikiran Saya seperti terlahir kembali. RE-BORN gitcu. Semangat Saya persis seperti handphone yang di-charge ulang.

Saya sangat berterimakasih sekali kepada Bang Z. Karena nasehatnya Saya bisa menjadwal ulang rencana sukses Saya yang ke sekian kalinya. Apakah Anda mau tahu apa nasehat dan sarannya ? Pada kesempatan ini Saya akan mencoba menguraikannya. Jangan kemana-mana ya. Stay tune terus di blog yang sangat sederhana ini.

Pada suatu hari Saya diminta Ibu Saya pergi ke toko kelontong milik Bang Z. Kebetulan Bang Z membuka toko kelontong di rumah pribadinya. Bagi Anda yang tidak tahu apa itu toko kelontong, itu adalah toko yang menjual berbagai macam barang kebutuhan rumah tangga. Seperti telur, gula, beras, shampoo, pasta gigi, sabun, bahan masakan dan sebagainya. Ya bisa dikatakan kayak supermarket mini gitu.

Sebenarnya Saya males banget pergi. Abiz gengsi dunks. Masa cowok disuruh beli gituan. Apa kata DUNIA ? Namun karena yang memintanya, orang yang paling Saya sayangi sedunia, mau tak mau Saya wajib menyanggupinya. Akhirnya Saya sampai di toko Bang Z.

Setelah basa-basi saling tegur sapa, Bang Z mulai menanyakan beberapa hal kepada Saya. Percakapannya kurang lebih sebagai berikut.

Bang Z : Gimana kabarnya ? Apa kegiatan sekarang ?

Saya : Baik. Alhamdulillah. Yah saat ini sedang bantu-bantu teman cari proyek pemerintah. Jika cocok cari perusahaan dan ajukan penawaran tender, Gitu aja sih. Kenapa Bang ?

Bang Z : Wah bagus itu. Tapi itu kan jangka panjang sifatnya. Untuk sehari-hari gimana. Masa nunggu proyek terus. Gimana mau makan, trus nabung buat nikah. Kalo masih bujangan sih enak. Nanti gimana kalo udah punya anak kayak Saya. Repot, bukan ?

Saya : Iya juga ya Bang. Makanya lagi cari kerja juga ne. Cuma belum ada yang cocok. Gajinya tidak sesuai dengan pekerjaannya. Gimana mau diambil, coba.

Bang Z : Oh gitu ya. Emang susah sih cari kerja saat ini. Hampir semua pekerjaan gajinya tidak sesuai. Kalau pun ada itu persaingannya lumayan besar.

Gimana kalo Kamu buka usaha aja. Kayak Saya ne. Saya buka usaha ini udah 2 tahun (2009-2011). Meskipun kecil, lumayan duitnya. Gk perlu cari kerja lagi dan bisa menghidupi keluarga dan 2 anak. Aku juga sedang nyicil sepeda motor sport. Kamu gimana ? Apa gk tertarik ?

Saya : Tertarik sih Bang. Cuma modalnya gk ada. Mau makan aja tidak cukup. Apalagi untuk membuka usaha.

Bang Z : Yah alasan klasik. Jangan yang besar-besar lah. Yah terjangkau ama kantong aja dulu. Nanti kalo udah besar baru cari modal yang besar.

Saya : Oh gitu ya Bang. Emang bisnis apa yang modalnya terjangkau ?

Bang Z : Yah ada banyak. Tergantung Kamu. Sukanya apa. Bisanya apa. Mulai dari yang kecil dulu. Atau kalo Kamu mau, Kamu bisa coba usaha kelontong kayak Saya ini. Modalnya cuma Rp 500 ribu aja lho.

Saya : Hah ? Rp 500 ribu ? Yang benar Bang ?

Bang Z : Iyah benar. Gk nyangka kan ?

Saya : Iya Bang. Aku gk nyangka kalo modal awalnya cuma segitu. Karena kalo Aku lihat toko Abang modalnya sekitar Rp 10 juta ada tuh…

Bang Z : Aku jg gk nyangka bisa kayak gini besarnya. Padahal awalnya Aku ragu juga untuk memulai. Namun setelah berdiskusi dengan istri lalu memutuskan, Aku langsung mulai aja. Bismillah…dan Alhamdulillah sekarang lancar dan bisa besar seperti yang Kamu lihat.

(Toko Bang Z menempati garasi rumah yang ukurannya 4,5 m ke samping x 9 meter ke belakang. Barang dagangannya lumayan lengkap. Mulai dari sabun, snack, minuman ringan sampai minyak goreng juga ada. Ada juga buku tulis anak sekolah, gunting, sampul buku dan pulpen. Ada juga beberapa bumbu segar seperti cabe keriting, bawang, jeruk nipis, gula merah dsb. Saya lihat ada sekitar 10-20 orang per hari yang berkunjung ke toko Bang Z)

Saya : Iya yah Bang. Wah hebat Abang ini ternyata…(karena udah 30 menit ngobrol, Saya pamit karena Ibu Saya pasti udah menunggu) Eh udah dulu ya Bang. Soalnya nanti Ibu Saya mencari Saya lagi. Lain kali Kita diskusi lagi ya Bang….(Sambil mengambil belanjaan, Saya pun pamit)

Bang Z : Oke deh..Sering-sering kemari ya…

Saya rasa sekarang ini Bang Z mungkin lupa tentang percakapan itu. Namun Saya tidak bisa melupakannya. Saya berubah sejak percakapan terjadi. Saya jadi lebih bersemangat. Padahal sebelumnya Saya sering tuh membaca buku-buku pengembangan diri dan bisnis. Mulai dari karangan Tony Robbin, David J Swartz, Napoleon Hill, Dale Carnegie, Donald Trump, Joe Hartanto, Hermawan Kartajaya, Mario Teguh, Aa Agym, Anis Matta, Bill Gates, Richard Branson sampai karangan Robert T Kiyosaki.

Namun anehnya ingatan Saya dari membaca buku-buku itu tidak lebih bersemangat dari setelah Saya berdiskusi dengan Bang Z. Bang Z itu seperti motivator sukses Saya. Seperti pembakar semangat yang telah tidur selama ini dalam diri Saya.

Sampai sekarang ini Saya mampu membangun bisnis Saya menjadi besar karena tertular semangat dari Bang Z waktu itu. Saya selalu membayangkan bagaimana gaya berbicara Bang Z yang penuh semangat. Kalo Saya ingat hal itu Saya jadi tidak takut lagi menghadapi masalah yang akan Saya hadapi…

Bisnis memang bukan saja melibatkan masalah teknis semata seperti modal, akuntansi, laporan keuangan dan sebagainya. Bisnis juga harus melibatkan perasaan. Harus mampu mengatur dan mengelola emosi. Apa yang Anda impikan. Apa yang Anda rasakan dalam hati. Dan bagaimana Anda mengarahkannya demi kemajuan bisnis Anda menuju lebih baik dan lebih berpenghasilan atau beromzet besar.

Sebagian orang Saya lihat, yang memiliki usaha, memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dari Saya.  Tapi pendidikan yang tinggi itu tidak mampu membuat emosi mereka terjaga dan tenang. Mereka tidak bisa menjaga emosi tatkala terjadi keadaan diluar dugaan. Terjadi keadaan yang sangat menyesakkan dada. Waktu itu emosi mereka menjadi tidak stabil. Akhirnya usahanya menjadi bangkrut seiring dengan pudarnya semangat yang ada pada diri pemiliknya.

Bisnis yang besar bukan terletak kepada bisnisnya. Karena bisnis itu benda mati. Yang membuat sebuah bisnis besar adalah Pemiliknya. Manusia yang menjalankannya. Aspek People-nya. Seberapa tangguh semangatnya. Seberapa kuat daya juangnya. Seberapa tegar dalam menghadapi setiap masalah yang datang..

Hal itu penting karena masalah bisnis seringkali bukan masalah teknis. Tapi seringkali masalah manusia. Masalah makhluk hidup yang memiliki perasaan. Masalah hubungan antar manusia. Kalau tidak ada kestabilan emosi, masalah itu bisa menghancurkan bisnis dengan seketika.

Mungkin itulah sebabnya ada organisasi perkumpulan pengusaha. Gunanya agar saling menjaga semangat untuk tetap berada pada koridor bisnis yang benar dan tepat antara sesamanya. Kalo ada masalah bisa saling berdiskusi untuk saling mencoba mencari solusi yang terbaik. Dengan begitu bisnis tetap jalan dan bisa membantu masyarakat mendapatkan segala kebutuhannya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s